Bung Karno, Bob Marley, dan Eyang Subur

Bung KarnoMembandingkan Eyang Subur dengan Bung Karno memang agak sulit dan hampir tak ada kaitannya. Beberapa orang mungkin akan marah kepada saya karena telah mencoba mebandingkan sang founding father dengan seseorang yang menjadi bulan-bulanan infotainment. Tapi, paling tidak, kita bisa melihat bahwa kedua pria ini sama-sama memiliki karisma sekalipun intensitasnya mungkin amat berbeda.

Karsima dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dimaknai sebagai berikut:

1ka·ris·ma n 1 keadaan atau bakat yg dihubungkan dgn kemampuan yg luar biasa dl hal kepemimpinan seseorang untuk membangkitkan pemujaan dan rasa kagum dr masyarakat thd dirinya; 2 atribut kepemimpinan yg didasarkan atas kualitas kepribadian individu

Karisma tentu tidak akan lahir begitu saja, butuh proses waktu dan perjuangan. Karisma Bung Karno muncul karena di samping ganteng Putra Sang Fajar ini memiliki beberapa kelebihan. Tingkat kecerdasannya jauh di atas rata-rata. Buktinya, ia dapat menyelesaikan pendidikannya di THS (Technische Hoogeschool, ITB sekarang). Padahal, zaman itu amatlah jarang kaum pribumi bisa kuliah di perguruan tinggi keren tersebut.

Tak ada yang menyangsikan sedikit pun terhadap integritas Bung Karno. Ia begitu cinta kepada bangsa dan negaranya. Jika dia memang masuk golongan orang-orang selfish tentu akan menggunakan ijazah THS-nya itu untuk bekerja di perusahaan-perusahaan Belanda. Alih-alih melakukan itu semua, Bung Karno malah memilih berjuang dan menolak kerja sama dengan penjajah Belanda. Akibatnya, ia dibuang ke Boven Digoel dan harus merasakan tempat-tempat pengasingan lainnya.

Belajar dan terus belajar dilakukan Bung Karno. Sekalipun badannya dikungkung dalam pengasingan, namun minat bacanya tak pernah pupus. Ketika berada dalam pengasingan di Bengkulu antara tahun 1938-1942 tak kurang dari 335 judul buku yang telah dikoleksi dan dibacanya hingga tandas.

Karisma tidak semata-mata dimiliki segelintir pemimpin besar dan pesohor saja. Kesimpulan itu saya peroleh sehabis membaca tulisan Prof. Sarlito Sarwono di halaman facebooknya beberapa waktu lalu. Saya bahkan berkeyakinan bahwa pengemis yang mampu berpoligami juga memilki karisma tiada tara.

Ya, setiap hendak masuk pintu tol Kota Satelit Surabaya, perhatian saya selalu tertuju kepada seorang pengemis yang andeprok di pinggir jalan masuk tol Satelit-Waru. Caranya  berdandan mengingatkan saya kepada Bob Marley, si penyanyi reggae itu. Rambutnya gimbal terurai dengan setelan kemeja putih dan celana hitam kebesarannya.

Penyandang tuna daksa ini kata teman saya istrinya tiga. Saya percaya sekali terhadap informasi ini sebab teman saya berdomisili di tempat yang sama dengan pengemis ini. Lebih-lebih lagi teman saya ini masih menjabat ketua RT di kampungnya tersebut.

Bagimana dengan Eyang Subur? Tentu saja dia pun memiliki karisma. Buktinya, puluhan artis begitu terbius dengan segala titahnya. Bahkan mereka dengan rela hati mendirikan sebuah perkumpulan bernama Paesindo (Persatuan Artis Eyang Subur Indonesia).

Sebesar apakah karisma Eyang Subur? Mohon maaf, saya tidak bisa mengupasnya panjang lebar. Maklum, referensinya sangat terbatas. Tidak mungkin kabar-kabar dari infotainment saya jadikan acuan dalam menilai besarnya karisma pria beristri tujuh tersebut.

Meskipun demikian, kalau kalian mengikuti talk show yang dipandu Alvin Adam di Metro TV minggu lalu, pasti bisa melihat apresiasi ketujuh istri Eyang Subur terhadap suami mereka. Di mata mereka  pancaran karisma Eyang Subur sungguh luar biasa. Salah satu istrinya menyebutkan bahwa sang lelanang jagat itu mampu mengayomi siapa saja.

Siapa pun yang berada dalam lingkaran kehidupan Eyang Subur akan menikmati rasa tentram tiada tara. Seluruh problema menghilang begitu saja saat duduk berhadapan dengannya. Eyang subur adalah solusi bagi hadirnya setiap problema. Itu pendapat yang disampaikan oleh ketujuh istrinya kepada Alvin Adam, host acara talk show tersebut.

Apa yang menjadi kesimpulan para istri Eyang Subur tersebut tentu masih dalam batas debatable. Buktinya, Adi Bing Slamet, Bu Subangun, dan Arya Wiguna masih berseberangan pendapat dengan para istri Eyang Subur itu.

Terlepas dari polemik yang tak berkesudahan tersebut, ada satu hal yang harus menjadi perhatian, khususnya untuk para jomblowan yang budiman. Bahwa besarnya nama Bung Karno dan meroketnya nama Eyang Subur sama-sama dipacu oleh sebuah kata bernama karisma. Dengan demikian, tips awal yang mungkin harus segera dikantongi oleh para jomblowan yang budiman agar bisa segera tereliminasi dari dunia perjombloan adalah kepemilikan karisma tersebut.

Bagaimana menurutmu?

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*