Jatuh Cinta dalam Versi Kemrungsung

Jatuh Cinta dalam Versi KemrungsungMeskipun sudah lebih dari 20 tahun bermukim di kampung halamannya Bung Tomo, hingga hari ini saya masih agak sulit mencerna makna kata kemrungsung. Melihat hasil kerja serba kemrungsung jauh lebih gampang dari pada menterjemahkan kata tersebut.

Ya, saya sudah banyak melihat sebuah hasil dari proses kerja serba kemrungsung. Bila hasil itu berbentuk bangunan, maka keelokannya hanya berusia beberapa bulan saja. Menginjak ke bulan berikutnya, bangunan tersebut mulai retak-retak, miring, lalu ambruk.

Dalam urusan jatuh cinta pun tidak sedikit pelakunya terjangkit penyakit tersebut. Biasanya penyakit kemrungsung menghinggapi para lelaki jomblo yang usianya telah tiba pada kepala tiga atau lebih.

Terdapat beberapa alasan yang melatarbelakangi para jomblo senior ini begitu kemrungsung. Alasan pertama, dia menerima desakan orang tuanya yang juga kemrungsung ingin segera menimang cucu. Alasan kedua, yang bersangkutan ingin segera menaikkan harkatnya. Bagi sebagian lelaki, menikah adalah proses peralihan dignity dari kuadran inferior ke kuadran sedikit superior.

Hingga detik ini saya belum menemukan sebuah lembaga asmara yang melaksanakan survey demi pembuktian efektivitas sebuah tindakan kemrungsung. Bisa jadi, beberapa di antara pelakon kemrungsung ini berhasil dalam menghela kereta cintanya. Jika Tuhan sudah berkehendak demikian, mengapa tidak? Bukankah Dia sudah berfirman: Kun fayakun!

Sayangnya, nasib yang menimpa Salamun, kawan saya, tidak seberuntung itu. Tiga hari berkenalan dengan Markonah, Salamun dengan kemrungsung mengajak gadis Cianjur itu segera menikah. Cewek belasan tahun yang usianya terpaut sepuluh tahun dengannya itu tentu saja terkaget-kaget. Ia masih merasa berat berpisah dengan teman-teman sepermainanya.

Menghadapi penolakan tersebut, Salamun tak kehilangan akal. Ia kemudian melambung menemui ayah sang gadis. Diutarakannyalah keinginannya untuk mempersunting Markonah. Gayung pun bersambut, bapaknya Markonah juga lagi kemrungsung ingin segera menikahkan putrinya itu. Baginya, dipersuntingnya salah satu anaknya oleh seorang lelaki, bermakna terbebasnya anaknya dari kutukan mejadi perawan tua.

Singkat cerita, dengan kemrungsung Salamun melamar Markonah. Tanggal pernikahan pun secara sepihak ditentukan olehnya. Sengaja dipilihnya bulan tertentu sebelum tanggal ulang tahunnya ke-30 tiba. Sehingga kelak, dengan bangga ia bisa bercerita kepada anak cucunya bahwa dirinya menikah masih di kisaran usia 20 tahunan.

Sebulan pascalamaran, tak ada berita yang diterimanya dari Markonah. Padahal, nyaris setiap saat melalui surat cintanya Salamun memborbardir Markonah dengan rayuan-rayuan yang disitirnya dari sebuah buku berjudul Petunjuk Praktis Menaklukkan Hati Wanita.

Menginjak bulan kedua, surat jawaban dari Markonah pun pun tiba disertai paket berisi pengembalian cincin tunangan. Dalam suratnya Markonah menyampaikan bahwa dirinya telah bertolak ke negeri jiran untuk menjadi TKI. Ia menyampaikan salam perpisahan dan berharap kepada Salamun agar bisa melupakan dirinya tuk selamanya. Tak lupa ia pun mendoakan Salamun agar mendapatkan pendamping yang cantik dan jauh lebih salihah dibandingkan dirinya.

Ups, hanya sampai di situ Salamun membaca surat tersebut. Selanjutnya, dengan kemrungsung ia pun membanting paket dari Markonah.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*