Jangan Pernah Berpikir Untuk Menyerah!

Jangan Terbersit Pikiran untuk MenyerahFenomena perceraian cukup membludak akhir-akhir ini. Baik artis maupun rakyat jelata, sama-sama berada dalam ancaman perbuatan halal namun dibenci Tuhan tersebut. Ya, setiap orang tengah berada dalam todongan senapan bernama perceraian.

Ketika melangkah pada jenjang pernikahan, sebenarnya kita sedang siap-siap berhadapan pada ancaman perpisahan. Banyak faktor yang menjadi penghantar para pasangan menuju jurang perpisahan ini. Persoalan ekonomi rata-rata menjadi primadona dalam kasus gugat cerai di Pengadilan Agama. Di samping itu, laku tidak setia pada pasangan juga cukup menjadi alasan perceraian.

Menghadapi ancaman tersebut, idealnya kita bisa bekerja sama dan menjadi team work yang solid dengan pasangan kita. Pasangan yang kompak dapat menuntun kehidupan mereka ke dalam kelompok orang yang tidak mudah meninggalkan gelanggang manakala goncangan datang. Mereka tidak mudah menyerah seberat apa pun ujian yang dihadapi. Mereka adalah orang-orang yang berteriak “ I don’t wanna be someone who walks away so easily” sebagaimana yang termaktub dalam lirik lagunya Jason Mraz: I Won’t Give Up.

Jangan sedikit-sedikit kabur meninggalkan pasangan kita lalu betah berlama-lama tinggal di rumah orang tua dengan harapan pasangan kebingungan dan mencari ke sana ke mari. Ujung-ujungnya berharap pasangan datang ke rumah orang tua kita. Lalu, dengan perasaan bersalah ia minta maaf serta mengakui segala dosanya. Setelah itu, ia mengajak kita pulang. Dan dengan sedikit acting yang dibuat-buat, penuh kepura-puraan  kita mencoba menolak ajakan tersebut.

Galibnya dalam sebuah hubungan mesti ada riak-riak kecil bahkan gelombang. Namun begitu, jangan sekali-kali berpikir untuk meninggalkan gelanggang. Hadapi setiap persoalan dengan berlapang dada, kepala tegak, namun hati tetap dingin. Tanpa riak dan gelombang tersebut kita tak akan pernah menjadi tambah dewasa.

Mari kita jadikan pasangan hidup kita sebagai teman dalam menghadapi segala ujian. Kita tidak boleh lagi sekedar berpikir tentang keakuan melainkan harus mulai berpijak di atas kekitaan. Itulah yang menjadikan kokohnya sebuah hubungan.

Kita dengan pasangan kita tidak sedang berkerja bersama-sama melainkan sedang bekerja sama. Ya, saya juga memahami terkadang di tengah jalan visi dan misi yang diemban bisa saling bertolak belakang. Kita berjalan ke utara sementara pasangan kita pergi ke arah sebaliknya. Kalau begini jadinya, bagaimana setiap persoalan bisa terpecahkan?

Kembalikan track perjalanan pada arah semula. Hadapi setiap kenyataan dengan tetap tabah dan tidak mudah menyerah. Cairkan sifat keakuan lalu arahkan ke poisisi kekitaan. Insya Allah, semua misskomunikasi itu akan teratasi.

Ingatlah, bahwa kesuksesan dalam berumah tangga itu bukan sekedar diukur oleh status yang sedang disandang oleh kita dengan pasangan hidup kita saat ini, melainkan juga diukur oleh keberhasilan kita melewati setiap rintangan dan tantangan yang kita hadapi bersama pasangan hidup kita.

Semoga kita bisa menjadi solusi bagi pasangan kita. Semoga sikap dewasa kita akan sedikit meringankan beban para hakim di pengadilan agama. Bisa jadi mereka amat terbebani dengan tingginya angka perceraian di bumi pertiwi ini.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*