Jangan Memotong Hak Anak dan Istri

Jangan Potong Anggaran Anak dan IstriFebruari silam saya membaca berita tentang rencana Pemerintah Provinsi Gorontalo yang akan menerapkan mekanisme penggajian model baru untuk para pegawai negeri sipilnya. Dalam mekanisme terbaru tersebut, gaji para PNS dibayarkan langsung melalui rekening istrinya masing-masing.

Kebijakan terbaru itu diterapkan Gubernur Gorontalo, Rusli Habibie, setelah menerima banyak keluhan dari para istri PNS. Menurut Rudi Irawan, Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Pemprov Gorontalo, tidak sedikit di antara para PNS yang tidak menyerahkan gaji mereka kepada para istrinya.

Peraturan baru tersebut diharapkan mampu mencegah penyalahgunaan gaji oleh para PNS untuk hal-hal yang bersifat konsumtif di luar kebutuhan rumah tangga mereka. Di samping itu, kebijakan ini pun diharapkan dapat mengantisipasi niat mereka untuk berselingkuh.

Melihat sisi buram yang dilakukan oleh para oknum PNS tersebut, kita para suami maupun para calon suami harus menyadari bahwa kewajiban menafkahi anak istri itu sepenuhnya berada di tangan kita. Tentu akan sangat berdosa jika kita membiarkan anak dan istri hidup tak berkecukupan lantaran tidak dinafkahi penuh oleh kita.

Istri kita bahkan diperkenankan untuk mengambil harta kita seandainya kita berkecukupan tapi tidak mau memberikan belanja yang cukup kepadanya. Di dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa pada suatu hari Hindun binti Utbah mengadukan suaminya, Abu Sufyan, yang bertindak kikir dan tidak mau memberikan belanja yang cukup kepada anak istrinya. Akibatnya, dengan terpaksa tanpa sepengetahuan suaminya Hindun mengambil sebagian dari harta suaminya itu. Sabda Rasulullah SAW ketika menerima pengaduan itu: “Ambillah sekadar cukup untuk dirimu dan anakmu dengan wajar.”

Memberikan belanja kepada anak dan istri merupakan keutamaan di antara amalan-amalan lainnya. Hendaknya kita mencukupi anak dan istri terlebih dahulu sebelum membagikan harta kepada yang lain sebagaimana diterangkan dalam hadits di bawah ini:

“Satu dinar yang kalian belanjakan di jalan Allah, satu dinar yang kalian belanjakan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang kalian nafkahkan untuk fakir miskin, dan satu dinar yang kalian belanjakan untuk keluargamu, (di antara itu semua) yang lebih besar pahalanya adalah satu dinar yang kalian belanjakan untuk keluargamu” (HR. Muslim).

Membiarkan keluarga dalam kondisi sengsara sama artinya dengan membiarkan mereka untuk berbuat maksiat. Kondisi perut yang lapar karena tidak dipenuhi kebutuhan pangannya oleh kita, bisa membuat mereka meninggalkan jalan kebaikan yang telah digariskan Allah SWT dan telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Persoalan pengabaian terhadap kebutuhan hidup anak dan istri merupakan permasalahan krusial dan tak bisa dianggap enteng. Makanya, para suami yang selama ini melakukan perselingkuhan anggaran untuk anak dan istri, hendaknya segera bertobat dan kembali ke jalan Allah SWT.

Bagi para calon suami dan calon ayah hendaknya kasus ini menjadi bahan pelajaran agar ketika telah berkeluarga tidak berprilaku menyimpang dari kewajiban yang telah Allah SWT tentukan dan telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

4 Comments

  1. hari ne tak seperti hari kemarin

  2. Saya sedikit beda pendapat nie, boleh kan…?
    lebih baik 75 % dari gaji yang di transfer ke istri jika perlu 50% saja, mengapa demikian karena banyak juga seorang istri yang tidak bisa mengelola keuangan. Truz bila di berikan 100% nanti jika habis ujung2nya apa..? minta siapa…? yang ada berantem dan paling minta cerai karena dianggap suaminya gak mau menafkahinya.

    • Selama kepututusan itu diambil demi kebaikan anak dan istri kita, saya rasa apa yang Mas Eko sarankan itu sah-sah saja. Apa yang terjadi di lingkungan PNS Pemprov Gorontalo mungkin sdh keterlaluan. Makanya Pemprov Gorontalo membuat kebijakan seperti yang disampaikan di atas.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*