Insya Allah

insya Allah“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali (dengan menyebut); ‘Insya Allah’.” (QS al-Kahfi [16]:23-24).

Ingin dipercaya pasangan kita? Teladanilah akhlak Rasulullah SAW. Integritas Beliau memang tiada tandingannya. Jangankan orang-orang yang mencintainya, orang-orang yang membencinya pun seratus persen percaya terhadap setiap ucapan dan janji Beliau.

Reputasi positif Nabi Muhammad SAW terbentuk bukan karena pencitraan yang dibuat-buat, melainkan karena ketulusan hati yang menyertai setiap gerak langkah dan ucapannya. Gelar al-amin dari saudara sesukunya membuktikan bahwa tak ada janji yang tak pernah ditepati oleh Baginda Rasulullah SAW.

Sekarang, mari telisik diri kita sendiri. Sudah berapa puluh janji yang tidak kita tepati? Alih-alih mengakui bahwa kita tidak bisa memenuhi janji, kita lebih suka berlindung di balik kata insya Allah, yang sesungguhnya sangat terpuji itu.

Beberapa tahun lalu kolega saya dari Australia pernah marah kepada saya. Ketika ditanya tentang bisa tidaknya menyelesaikan pekerjaan dalam seminggu, saya mengatakan insya Allah.

“Saya tidak akan percaya bahwa kamu akan serius menyelesaikan pekerjaan ini. Saya banyak bergaul dengan orang Indonesia dan setiap kali mengatakan insya Allah pasti janji yang diucapkannya tidak akan ditepatinya,” ungkapnya dengan muka merah padam.

Sesungguhnya makna insya Allah itu sangat agung. Menurut Ustad Hasan Basri Tanjung, insya Allah merefleksikan kesadaran terhadap kelemahan diri. Kita memiliki ketergantungan sangat tinggi terhadap rencana dan ketentuan Allah SWT. Ketika mengucapkan insya Allah, kita sedang bertawadu sebab kita menyadari akan keterbatasan diri dalam melakukan sesuatu, baik di hadapan manusia lebih-lebih di hadapan Allah SWT.

Saya kira, sudah waktunya kita mengembalikan insya Allah ke dalam makna sebenarnya. Jika itu telah kita lakukan, maka integritas dan kredibiltas kita akan kembali pada tempatnya. Kita tidak akan lagi dicap sedang berbohong dengan cara berlindung di balik kata insya Allah.

Saat insya Allah meluncur dari mulut kita, siapa pun akan percaya bahwa kita akan memenuhi janji kita. Termasuk di dalamnya kawan-kawan mancanegara dan calon atau pasangan kita.

2 Comments

  1. Benar, setuju sekali, sudah lama saya “terganggu” dengan pemakaian kata insya Allah sekarang yang tidak pada tempatnya, dan terkesan memudahkan janji tanpa berusaha menepatinya, padahal kata insya Allah tersebut maksudnya adalah jika Allah mengizinkan dalam arti kita wajib memenuhi dan berusaha memenuhi ucapan dan janji kita, jika sudah demikian ternyata tidak dapat memenuhi disitulah kehendak Allah SWT yang sebenarnya jadi bukannya menggampangkan ah yang penting sudah bilang insya Allah. Sebenarnya tidak hanya ucapan insya Allah yang sekarang banyak disalahartikan bahkan disalahgunakan, banyak dan sedihnya semua digunakan untuk meng”halalkan” tindakan, sikap, dengan mengatasnamakan karena Allah, karena agama, mengatasnamakan Islam, padahal hanya untuk kepentingan pribadi atau golongan tertentu dengan memanfaatkan manusia sekarang yang malas menggunakan akal dan nurani, makanya pada akhirnya gawatnya Indonesia jadi ladang para teroris dan terkenal di luar dengan negeri Indonesia Negara teroris dan narkoba, hanya sedikit kebaikan yang terdengar yaitu Indonesia penghasil kopi yang enak dan Java coffee, itupun jarang;,

  2. Nur hasanah says:

    wow ……………

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*