Mari Jaga Mulut Kita

Mari Jaga Mulut KitaHati-hati dengan mulut kita. Sebab mulut kita bisa menjadi sumber sebuah bencana. Tengoklah bagaimana sebuah hubungan antarnegara hampir bruhbrah karena keisengan mulut kepala negaranya. Ya, belum lama ini Presiden Uruguay Jose Mujica konon begitu didera rasa malu luar biasa, ketika umpatan isengnya bocor di mikrofon. Sang presiden khilaf dengan ucapan tidak pantasnya tentang Cristina Kirchner, Presiden Argentina, dan mantan suaminya.

“Perempunan tua jahanam ini lebih buruk dibandingkan suaminya yang juling itu.” Itulah umpatan Mujica saat berbicang-bincang dengan pejabat lainnya menjelang jumpa pers. Ia tidak menyadari bahwa mikrofon sensistif yang tepat berada di depannya saat itu telah dalam kondisi “on”. Jadi, sepelan apa pun kata yang diucapkan akan tertangkap dengan baik oleh mikrofon itu.

Alhamdulillah, tindakan merendahkan martabat itu tidak sampai meruncing hingga berakhir pada perselisihan bilateral. Jika akibat buruk tersebut timbul, bisa dibayangkan bagaimana kekacauan antara bangsa Argentina dengan Uruguay akan terjadi sesudahnya.

Pelajaran yang bisa kita ambil dari insiden tersebut adalah mengenai kehati-hatian kita dalam menjaga mulut. Ya, banyak kasus perceraian, pembatalan pernikahan, serta berakhirnya jalinan kasih, bermula dari keseleo lidah. Bagi kita mungkin ucapan yang terlontar dianggap biasa saja. Akan tetapi, penafsiran dan respons lawan bicara kita sungguh jauh dengan harapan kita.

Bisa saja kamu mengatakan bahwa embernya mulutmu itu memang sudah bawaan dari sononya. Selanjutnya dengan penuh percaya diri kamu mengatakan, ”Ini mulut, mulut gue, ini cara, cara gue. Kalau lo senang ama gue, lo musti seneng pula cara bicara gue!”

Ya, silakan saja jika kamu berpendapat seperti itu. Hanya saja perlu dicatat bahwa tutur kata seseorang merupakan takaran tepat mengenai kemahiran, pengetahuan, adab sopan santun, serta budi pekerti yang dimilikinya. Orang bisa menilai kita justru dari cara kita berbicara. Maka pada tempatnyalah jika kita senantiasa memelihara lidah kita. Adalah perbuatan yang wajar jika setiap berbicara kita selalu bersandar pada pertimbangan tersinggung tidaknya lawan bicara kita.

Berbicara secara benar, penuh sopan santun dan lembut agar sedap didengar, akan jauh lebih baik daripada mengeluarkan kata-kata kotor. Kembalikan kepada diri kita sendiri. Bagaimana perasaan kita saat berhadapan dengan orang yang tidak pandai dalam menjaga mulutnya?

Pepatah Melayu mengatakan, “kerana pulut santan binasa, kerana mulut badan binasa.” Jika direnungkan, pepatah tersebut mengandung makna yang begitu dalam. Selayaknya kita menjadikannya sebagai panduan hidup supaya terhindar dari prahara yang diakibatkan lisan kita sendiri.

Bertafakurlah mulai sekarang. Jangan-jangan jauhnya jodoh kita salah satunya diakibatkan kurang baiknya kita dalam menata kata; tidak cermatnya kita dalam menjaga lisan. Orang tua kita sejak dulu telah mewanti-wanti: “Mulutmu harimaumu!”

Sebelum segalanya berakhir pilu, mari kita jaga mulut kita dengan baik.

One Comment

  1. setuju. maaf kalau ada kata yang salah. mohon keselamatan dunia dan akherat. ya… Allah, ampuni hambamu ini…

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*