Pilih Berzina ataukah Menikah Muda?

Pilih Berzina ataukah Menikah MudaBagi orang udik seperti saya, Jakarta merupakan magnet yang memiliki daya tarik tersendiri. Ketika telah mendapat kesempatan menginjakkan kaki di Ibu kota Republik Indonesia ini, keinginan untuk bisa mengenalkan Jakarta kepada sanak famili pun kemudian muncul.

Beberapa tahun kemudian, saat mendapatkan kesempatan bertugas belajar di Jakarta, keinginan tersebut akhirnya kesampaian juga. Karena anak-anak sedang menjalani masa liburan sekolahnya, saya pun bisa dengan leluasa mengajak mereka berkeliling ibu kota. Moda transportasi yang kami gunakan waktu itu adalah bus Transjakarta.

Hutan beton yang menyesakkan Jakarta sunggguh telah memesona anak-anak saya. Waktu itu anak saya yang tertua masih duduk di bangku kelas 4 SD, yang nomor dua masih kelas 1, sementara yang paling kecil masih berusia tiga tahun, belum sekolah.

Ketika kendaraan yang kami tumpangi melintas di sekitar Lapangan Monas, anak-anak saya seperti terhenyak dengan sebuah pemandangan. Ada apa gerangan? Padahal Tugu Monas belum tampak secara jelas. Rupanya mereka terkesiap oleh pemandangan para pasangan yang sedang melampiaskan gairahnya di sepanjang taman di lapangan Monas. Ya, dari balik kaca jendela para penumpang bus Transjakarta dengan leluasa melihat pemandangan rungseb itu.

Saya tidak tahu apakah saat ini pertunjukkan “sirkus” di siang bolong tersebut masih berlangsung? Wallahu alam. Praktis sejak Jakarta ditangani Mas Jokowi dan Koko Ahok, saya masih belum sempat menengok kembali kawasan Monas.

Adakah di antara pembaca artikel ini yang masih tercatat sebagai “aktor” di kawasan Monas? Jika memang ada, maka izinkanlah saya untuk menyampaikan himbauan.

Mohon diketahui bahwa prilaku tidak senonoh Anda itu ibarat kepulan asap yang keluar dari mulut para pecandu rokok. Bagi Anda mungkin itu suatu kenikmatan luar biasa. Tapi bagi orang-orang di sekitar Anda, perbuatan itu sungguh telah menimbulkan polusi.

Gak uenak blass untuk dilihat. Apalagi banyak anak-anak di sekitar Anda yang berlalu-lalang. Tegakah Anda mempertontonkan kebejatan moral Anda kepada mereka? Seandainya perbuatan nista itu membuahkan bayi, tegakah anak Anda yang suci dari dosa itu dicap sebagai anak jadah atau anak haram?

Haruskah Anda masuk DPO orang tua pacar Anda karena telah menghamili anaknya. Nah, sebelum itu semua terjadi, lebih baik salurkan saja hasrat purbamu itu lewat lembaga pernikahan.

“Lha, menikah itu kan tidak gampang! Butuh biaya tidak sedikit dan birokrasinya rumit!”

Eit, tunggu dulu. Menikah itu amatlah gampang. Yang membuat rumit itu justru diri kita sendiri.

Sesungguhnya nikah itu amatlah murah. Hal itu telah dibuktikan oleh teman kuliah saya dahulu. Karena hasratnya untuk bisa mencegah diri dari perbuatan zina begitu besar, keduanya pun kemudian memutuskan untuk menikah.

Mahar yang diberikan teman saya kepada calon istrinya berupa seperangkat alat salat plus beberapa bait puisi yang entah dinilai bagus ataukah tidak oleh para kritikus sastra. Yang pasti, berkat tekad yang bulat, keduanya akhirnya bisa menerima buku nikah berwarna coklat dan hijau dari KUA.

Niat baik akan selalu berujung dengan kebaikan pula. Hingga detik ini kehidupan mereka kian membaik. Anaknya yang tertua telah menyelesaikan S2-nya, sedangkan yang nomor dua masih menyelesaikan jenjang S1-nya.

Saya menyadari bahwa pada tahun-tahun pertama, kehidupan mereka lumayan berat. Tapi begitulah konsekuensi sebuah perjuangan. Harus diawali dengan laku prihatin. Tempaan demi tempaan telah mereka lewati bersama dan kini keduanya tengah menikmati manisnya buah perjuangan tersebut.

Di samping riwayat di atas, ingatan saya juga masih segar mencatat kisah tentang seorang kawan yang lama idek liher berkumpul kebo dengan pacarnya. Untuk menghilangkan jejak, setiap kali bertandang biasanya dia memasukkan alas kakinya ke kamar kost pacarnya itu sehingga tidak memancing rasa curiga ibu kost dan penghuni lain rumah kost itu.

Orang yang saya maksud saat ini telah menjadikan pacarnya itu sebagai istri sahnya. Kehidupannya tampak bahagia. Meskipun demikian, saya meyakini bahwa nilai kebahagiaannya tidak akan bisa mengalahkan ketenangan batin teman saya yang memutuskan menikah saat perkuliahannya akan selesai.

Limpahan harta, jabatan prestisius, gelar keagamaan, serta gelar akademis yang berderet, tentu tidak bisa membersihkan catatan buram teman saya, sang pelaku kumpul kebo itu. Semoga aibnya tidak terendus oleh anak-anaknya. Kalaupun terendus, semoga rasa hormat anak-anaknya tidak mengalami perubahan.

Dari dua contoh yang saya sampaikan tadi semoga kita semua bisa menarik sebuah manfaat. Jangan biarkan diri kita di masa depan harus menanggung malu akibat tindak amoral kita pada hari ini. Sebelum kenistaan itu menimpa diri kita, mari kita cegah sedini mungkin dengan cara menyegerakan pernikahan kita.

Jika calon suami atau calon istri telah ada, apa lagi yang ditunggu? Segeralah temui penghulu untuk menikah. Insya Allah, nikmat dan barokah. Segudang pahala tengah menanti di dalamnya.

7 Comments

  1. Pilihan yang sulit, berzina itu dosa, dan menikah itu sunah rosul, tapi bila keadaan dan orang yang kita cintai belum siap untuk menikah.

  2. Lebih baik nikah muda Dari pada berzina,amit” deh mudah”an d jauhkan sejauh jauhnya

  3. Anggara Ardiyanta says:

    Calon istri sudah ada, namun permasalahannya ada di ortu saya. Setelah dijudge oleh seorang bahwa kami nanti kelak akan bercerai pasca menikah, ortu saya seakan memusuhi kekasih saya itu. Semua kebaikan kekasih saya termasuk merawat saya ketika sakit tidak dihargai sama sekali. Selalu berburuk sangka, yang inilah yang itulah. Bagaimana mengatasi problematika semacam ini?

    Terima kasih

    • Coba telusuri saja, mengapa ortu Anda tidak menyetujui kekasih Anda untuk dijadikan istri Anda.

      • Anggara Ardiyanta says:

        Karena “diramalkan” seperti itulah akhirny ortu saya memusuhi kekasih saya. Kekasih saya seiman, pendidikan selevel dg saya, keluarganya juga muslim.

  4. untuk mengantisipasi maraknya perselingkuhan dimana-mana ada baiknya perempuan cepet-cepet nikah dan merelakan istri yang pertama untuk menikah lagi ke wanita muda supaya tidak terjadi perzinahan dan perselisihan yang berkepanjangan di rumah tangganyha

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*