Dekati Hari Pernikahan, Semakin Intensiflah Berkomunikasi

komunikasi jelang nikahSaya sudah bercerita banyak tentang pentingnya jalinan komunikasi dengan pasangan kita. Komunikasi yang terus berlangsung, secara signifikan, sangat membantu eratnya jalinan kasih di antara dua insan yang sedang memadu kasih. Lebih-lebih jika sudah mendekati hari “H” pernikahan, faktor komunikasi harus mendapat perhatian penuh.

Tidaklah tepat mengambinghitamkan jarak yang memisahkan kalian berdua. Teknologi informasi sudah sedemikian majunya. Sehingga, ingin berkomunikasi berapa kali pun dalam sehari, kamu bisa melakukannya sepanjang sinyal dari operator telepon seluler bisa ditangkap. Dan hal ini bukanlah menjadi sesuatu yang mustahil karena tower-tower BTS milik operator penyedia layanan komunikasi seluler sudah bertebaran di mana-mana, bahkan, di pulau-pulau terpencil sekalipun.

Sekali lagi saya katakan bahwa lebarnya jarak di antara kalian berdua bukanlah menjadi penghambat terhadap komunikasi di antara kalian berdua. Sebaliknya, jarak juga bukan menjadi kendala untuk terciptanya sebuah penyimpangan kesetiaan. Sosial media semacam facebook atau twitter bisa menjadi pemicu untuk terciptanya sebuah hubungan terlarang. Fakta membuktikan bahwa dengan adanya kemudahan memasuki jaring sosial media, maka perselingkuhan pun menjamur di mana-mana. Bahkan, sebagian perceraian yang terjadi daratan Amerika, salah satunya, disebabkan oleh perselingkuhan lewat sosial media ini.

Jadi, seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi informasi, maka godaan sekaligus ujian terhadap kesetiaan seseorang pun akan semakin besar. Di situlah iman kalian diuji besar-besaran. Sekarang tinggal kalian yang harus padai menyiasati tantangan tersebut agar bisa tetap bertahan dengan hubungan yang terjalin selama ini.

Terputusnya sebuah hubungan juga bisa diakibatkan oleh kejenuhan yang melanda kalian berdua. Terdapat dua akibat  yang disebabkan lamananya sebuah hubungan: semakin erat atau, sebaliknya, semakin rapuh. Jika opsi pertama yang menjadi pilihan, maka upaya yang mengarah ke arah tersebut harus semakin diintensifkan. Seriusi setiap persoalan secara santai. Target sih boleh saja ditetapkan tetapi jangan terlalu ngoyo dalam ikhtiar mencapainya. Coba ciptakan sebuah kerja keras tapi kita enjoy menjalaninya. Itulah yang dimaksud dengan kerja keras yang tidak ngoyo.

Kerja ngoyo hanya akan menyisakan perasaan tertekan saja. Dan ketika ada persoalan yang membuatmu stress atau depresi, maka putusan yang diambil pun kadang di luar perhitungan nalar. Akibatnya, keputusan diambil tanpa sebuah perhitungan. Sebuah keputusan jalan pintas. Misalnya, dalam keadaan jenuh akibat situasi yang menekan, tiba-tiba si dia berulah yang membangunkan amarahmu. Kemudian, tanpa berpikir panjang, kamu pun membuat ketetapan untuk mengakhiri jalinan kasih dengannya.

Itulah sebagian tantangan yang harus dihadapi menjelang hari “H” pernikahan. Berkonsentrasi dan berkonsentrasilah. Jangan biarkan semua tantangan itu menjadi sebuah hambatan bahkan menjadi sebuah ancaman. Jadikan semua itu sebagai peluang untuk semakin merapatkan barisan pertahann di antara kalian berdua.

Update terus komunikasi di antara kalian berdua. Setiap perselisihanan dan kesalahpahaman segera diselesaikan dengan kepala dingin. Jangan dibiarkan berlangsung secara berlarut-larut. Maksimal dalam waktu tidak lebih dari tiga hari persoalan tersebut sudah dibicarakan. Jangan segan-segan untuk meminta keluarga dekat atau orang kepercayaan guna memediasi persoalan di antara kalian berdua

Tetap semangat dan terus saling mendukung. Semoga jalan yang sedang kalian tempuh, mengarah kepada sasaran terciptanya sebuah keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah. Tuhan senantiasa beserta kita.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*