Dari Gak Ada Apa-apanya Menjadi Ada Apa-apanya

Dari Gak Ada Apa-apanya Menjadi Ada Apa-apanyaTri, begitulah dia biasa dipanggil. Nama lengkapnya, sengaja saya rahasiakan. Dia bukanlah tipe orang yang gemar publikasi. Yang pasti, saat ini dia sedang menduduki sebuah jabatan publik, sekalipun bukan gubernur ataupun bupati. Dia seorang kades di sebuah desa yang terletak pada sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Timur.

Apa sih uniknya teman saya yang satu ini? Unik, karena dia dulu tak begitu banyak diperhitungkan orang. Jangankan oleh lawan jenisnya, oleh sesama jenisnya pun tidak. Dia bukan tipe cowok cool yang bakal mengundang minat cinta para cewek. Dia bukan siapa-siapa.

Tapi, ketika jabatan publik itu telah berada dalam genggamannya, kisah hidupnya berubah 180 derajat. Berbagai ajakan datang silih berganti. Beraneka macam. Mulai dari ajakan berselingkuh hingga tawaran kerja sama yang dapat menjerumuskannya ke dalam neraka jahanam.

“Mas Tri, tidakkah Panjenengan tertarik dengan kemolekan tubuh saya. Ayolah Mas. Kita bisa menikmati indahnya surga dunia di Tretes sana. Panjenengan tidak perlu  keluar duit. Semua saya yang nanggung. Rahasia sangat terjamin. Anak bojo Panjenengan tak akan mengetahui semua jejak kita.” Begitulah isi SMS yang diterimanya dari seorang janda muda pengusaha kaya di desa tersebut.

Tawaran berikutnya datang dari seorang tuan tanah, “Pak Kades, tanah bengkok yang menjorok dekat jalan tol itu apa tidak sebaiknya ditukar guling saja. Saya punya lahan yang lebih luas. Insya Allah, selisihnya akan mencapai 3 M. Seluruh keuntungan itu mutlak menjadi milik Pak Kades.”

Itulah sosok Tri, teman seperjuangan saya. Dulu tak ada apa-apanya, tapi hari ini begitu banyak apanya. Pepatah mengatakan makin tinggi sebuah pohon maka semakin kencang terpaan anginnya. Jika teman saya tidak tahan dengan semua godaan ini, bisa jadi beberapa tahun ke depan dia akan menghuni sebuah kamar berterali besi.

Alhamdulilah, hingga postingan ini diturunkan, Tri masih komit dengan sikap hidup sederhananya. Tidak neko-neko. Fokus mengabdi kepada kepentingan publik.

Kenyataan yang sama bisa juga menimpa diri kita pada suatu hari. Saat ini kita merasa frustasi dengan kehidupan yang sedang kita jalani. Tak ada yang memperhitungkan. Tak ada yang melirik. Godaan kita tantang, tapi tak berani hadir dalam kehidupan kita. Tunggulah beberapa tahun ke depan. Ketika keberhasilan itu datang menyambangi kehidupan kita, maka akan berubahlah segalanya. Kita beranjak dari seseorang yang tidak ada apa-apanya menjadi sosok yang ada apa-apanya.

Tunggu pulalah.  Semakin kita beranjak menuju puncak, maka semakin kencanglah terpaan angin. Ketika kita tidak cerdas dalam mengelola akhlak dan prilaku, nasib kita tak akan jauh beda dengan para pesakitan penghuni penjara KPK.

Mau? Ya, enggaklah yauw!

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*