Cinta yang Tumbuh Perlahan

the old coupleSaya kadang tidak habis pikir, bagaimana orang-orang tua kita menikah tanpa saling kenal sebelumnya. Mereka baru bisa bakutatap saat penghulu sudah siap membimbing mereka berikrar saling setia. Benar-benar gak masuk akal. Adakah cinta yang mendasari mahligai pernikahan mereka?

Mengapa saya bertanya seperti itu? Soalnya, begitu banyak anak muda yang seakan mempertuhankan cinta. Seakan cinta adalah segala-galanya. Semua pasti bisa dihadapi asalkan ada cinta.

Marilah kita kembali menengok perjalanan kakek-nenek dan mbah buyut kita. Mahligai pernikahan mereka begitu kokoh hingga bisa melahirkan bapak-ibu kita. Pernikahan mereka juga menjadi latar belakang bisanya kita menghirup segarnya hawa dunia.

Yo opo resepe, Cak? Demi rasa penasaran ini, saya coba googling ke sana ke mari berbekal kata kunci Love that Grows Slowly. Hasilnya saya hanya menemui sejumlah puisi yang benar-benar gelap; begitu sulit dicerna maknanya.

Beruntung sekali mbah buyut saya menikah tanpa diribeti aneka macam teori. Paling tidak ia sudah terhindar dari rasa ragu menjalani pernikahannya. Mengunduh pemeo kawan dekat saya: banyak teori banyak bingungnya!

Coba bandingkan dengan mahligai pernikahan sejumlah sosialita kita. Kurang apa? Informasi tentang cara-cara mempertahankan mahligai rumah tangga bertebaran di mana-mana. Narasumber yang bisa dikorek informasinya tentang tata cara membina rumah tangga sakinah-mawaddah-wa rahmah gak kurang-kurang. Tapi apa hasilnya? Ya bruh-brah juga. Padahal kalau kita simak saat pacarannya, sungguh luar biasa. Kemesraan mereka umbar ke mana-mana. Ah, sudahlah. Kalau diteruskan malah jadi gossip murahan. Jadi ghibah.

Setumpuk cinta yang kau bawa gak akan bermakna apa-apa selama tak dilengkapi bekal lainya. Ini bukan menurut saya lho, melainkan kata Mbak Adriana S. Ginanjar, seorang konselor perkawinan dari Fakultas Psikologi UI. Katanya, cinta memang menjadi perekat perkawinan, bahkan menjadi faktor penguat. Bangunan cinta akan goyah bila tidak disertai perangkat penguat lainnya, seperti, komitmen untuk setia, saling pengertian, kerja sama, komunikasi yang lancar, dan kedekatan emosional.

Apa yang disampaikan Mbak Adriana di atas, seluruhnya sudah dipraktikkan oleh mbah buyut kita. Begitu kokoh akar cinta mereka. Bisa jadi, mereka mengawali perjalanan rumah tangga tanpa disertai cinta. Meskipun demikain, komitmen yang dibangun secara perlahan-lahan telah membangkitkan gairah cinta mereka. Love that Grows Slowly. Witing tresno jalaran soko kulino.

Ibarat makanan, cinta yang disajikan oleh mereka bukanlah jenis cinta cepat saji. Mereka memasaknya dengan api kecil sehingga cinta mereka benar-benar matang secara merata. Dan mereka mengolahnya bukan pada saat pacaran yang kerap dipenuhi tipu-tipu. Mereka mematangkan cinta di dalam mahligai pernikahan, di medan tempur sebenarnya. Dan cinta mereka pun tumbuh secara perlahan hingga sang malakal maut memisahkan keduanya.

One Comment

  1. sebening embun says:

    Inilah yg hrs kt ketahui

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>