Cinta yang Berdiri di Atas Pondasi Keikhlasan

Cinta yang Berdiri di Atas Pondasi KeikhlasanMedio Desember 2004, ketika gempa berkekuatan 9,5 SR yang disertai gelombang pasang tsunami meluluhlantakkan sebagian besar Bumi Serambi Mekah, tak ada bangunan kokoh yang bisa bertahan. Seluruhnya porak poranda; rata dengan tanah. Namun, di antara reruntuhan itu terdapat beberapa bangunan masjid yang yang tak goyah oleh hempasan bencana dahsyat tersebut.

Tak kurang dari 28 masjid yang tetap bertahan saat dihempas gelombang pasang tsunami itu. Masjid-masjid itu tersebar di beberapa tempat seperti Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh, Masjid Rahmatullah di Lampu’uk serta masjid di wilayah Ulelee, Khaju, Lhoknga, dan di beberapa tempat lainnya.

Mengapa rumah-rumah Allah itu masih tetap bertahan? Saya mencatat adanya keihklasan di dalamnya. Masjid itu dibangun oleh orang-orang yang ikhlas. Apa pun yang ditegakkan di atas pondasi keihklasan akan tetap bertahan walau diterpa bencana sedahsyat apa pun.

Begitu pula dengan mahligai cinta yang kita bangun. Jika kita mendirikan cinta dengan dasar keikhlasan semata-mata demi cinta itu sendiri bukan untuk tujuan lain, maka tingkat kekuatannya akan sekokoh masjid-masjid di NAD yang tetap bertahan saat diterjang tsunami.

Banyak yang berancang-ancang mendirikan bangunan cinta demi kekayaan, demi kekuasaan, demi kepuasan pribadi semata. Ia lupakan hakikat tujuan cintanya. Orang-orang seperti itu akan bertahan mempertahankan mahligai rumah tangganya mungkin hanya dalam hitungan bulan. Setelah itu, semuanya berlalu tanpa kesan mendalam.

Hidup ini pilihan. Sekarang tiba waktumu untuk menentukan. Apakah cinta yang kamu rancang dan kamu bangun saat ini semata-mata untuk cinta itu sendiri? Jika jawabannya ya, saya meyakini bahwa dasar yang digunakan adalah dasar keikhlasan. Tapi, jika di luar itu semua masih ada embel-embel yang lain, saya menyangsikan keikhlasan akan hadir dalam bangunan cinta yang kamu dirikan.

Itulah kesan mendalam yang saya tangkap dari peristiwa bertahannya masjid-masjid di Nanggroe Aceh Darussalam dari terpaan tsunami medio Desember 2004 lalu. Semoga Allah senantiasa menyadarkan kita semua atas segala kekuasaan-Nya yang terkandung dalam setiap ujian yang kita hadapi. Amien!

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*