Bertahan dengan Satu C.I.N.T.A

bertahan dengan satu cinta

Foto: superlative1.wordpress.com

Terus terang, setiap mendengar lagu ‘Cinta’ d’Bagindas berkumandang, saya selalu teringat teman sekampung dulu. Iik namanya. Tentang asal-usul namanya dan nama lengkap kawan saya yang satu itu, hingga hari ini saya belum mendapat informasi berlanjut. Yang pasti, Iik adalah soulmate saya yang selalu setia dan berusaha bertahan dengan satu cintanya.

Sejatinya, tak ada hal yang menarik dalam kepribadian Iik. Wajahnya tak tergolong tampan. Rambut kriwulnya mengingatkan saya pada Budi Anduk. Ya, seperti itulah penampilan Iik.

Saya sangat salut pada cita-citanya untuk menjadi seorang vokalis band. Soal suara, jangan ditanya. Iik pemilik suara, yang insya Allah, sangat mengganggu telinga para tetangga, terutama bagi orang-orang yang sedang menderita sakit gigi. Tak ada nilai plus dari lagu yang dinyanyikan Iik. Padahal bila dikumandangkan penyanyi aslinya, lagu itu sungguh menentramkan hati.

Pernah suatu hari seseorang melemparkan batu bata ke pelataran belakang rumah Iik tempat kami bercengkrama siang itu. Sontak kejadian itu membuat Iik naik pitam. Ia menghentikan reffrain lagu kesayangannya, meletakan gitar yang sedang dimainkan, lalu membalas lemparan itu sekenanya.

Tentang asmara, Iik dikategorikan sebagai seorang pejuang cinta yang tangguh. Seingat saya, sejak pertama bertemu dengannya, topik pembicaraannya tak pernah bergeser dari seorang cewek bernama Eneng. Nama itulah yang bolak-balik muncul dalam curcolnya.

Eneng adalah kembang kampung kami. Reputasi nama dan kecantikannya menyebar dan menerabas batas kecamatan kami. Sebenarnya, yang lebih cantik dari Eneng berjibun. Tapi, daya tariknya begitu menyedot perhatian para cowok pejuang sejati asmara. Siapa pun yang beradu pandang dengannya akan merasa seperti terkena sengatan listrik ribuan volt. Tapi sesudahnya kita akan merasa dibawanya terbang hingga langit ketujuh.

Rasa sayang Iik pada Eneng sepertinya tak kan pernah tergantikan sekalipun menghadapi kenyataan bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan. Iik bertahan dengan satu nama itu selama karier asmaranya. Berbagai upaya dilakukan orang tuanya agar Iik melupakan nama Eneng tapi tidak berhasil hingga pada suatu hari, sebuah peristiwa benar-benar mengguncangkan jiwanya. Eneng dilamar orang.

Sejak saat itu Iik kehilangan selera makan. Kerjanya hanya bergelut dengan gitar kesayangannya sambil bernyanyi tak tentu arah. Selanjutnya saya tidak bisa memantau perkembangan kesehatan Iik karena mendapat penugasan di luar kota. Mungkin jika teknologi gadget sudah marak seperti sekarang, saya akan minta informasi tentang Iik lewat SMS atau email. Saya kehilangan informasi tentang dirinya hingga pada sebuah kesempatan kakak saya mengabari bahwa Iik telah menghadap Yang Mahakuasa.

Saya hanya mampu bersimpuh sambil berlinangan air mata.

“Semoga Allah SWT di alam sana memberimu pendamping seorang bidadari yang jauh lebih cantik dari Eneng, ” bisik saya.

Iik telah bertahan dengan satu cinta hingga ajal menjemputnya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*