Bahaya Laten Itu Bernama Sombong!

Bahaya Laten Itu Bernama Sombong!“Orang merasa jauh lebih mudah memaafkan orang lain karena KESALAHANNYA dibandingkan dengan KEBENARANNYA.”
(J.K. Rowling)

Kalian yang pernah membaca novel Harry Potter and The Half-Blood Prince mungkin ada yang masih ingat kutipan di atas. Selintas kalimat tersebut tampak tidak bermakna apa-apa. Tapi, jika kita teliti membacanya, ada makna yang sungguh dalam untuk kita renungkan.

Ya, kita begitu mudah menyudutkan seseorang karena kesalahan yang pernah dibuatnya. Ketika dia mengakui kesalahannya, kita pun memaafkannya. Selanjutnya, kita pun begitu bangga. Perasaan, gak ada di dunia ini orang sepemaaf kita.

Tapi, pernahkah kita memaafkan seseorang karena kita menemukan kebenaran dalam sikap, prilaku, atau ucapan yang pernah dilontarkannya? Selanjutnya, kita menyadari atas segala kekeliruan penilaian kita kepadanya.

Maaf, sedikit sekali di antara kita yang berbesar jiwa mau memaafkan seseorang karena kita menemukan kebenaran dalam dirinya. Ada sebuah kendala yang menghalangi kita dalam menerima kebenaran tersebut. Kendala itu biasa disebut dengan sombong.

Kata Pak Koentjoro, tetangga saya, sombong itu amat sulit terdeteksi. Sombong ibarat semut hitam yang berjalan beriringan di atas batu hitam pada tengah malam yang gelap. Jadi, benar-benar tidak mudah ditemukan oleh kita sendiri.

Lebih lanjut sesepuh di kampung saya itu menjelaskan bahwa di alam nyata ini terdapat beberapa faktor pencetus lahirnya sifat sombong.

Pertama, Faktor Materi. Kita merasa bahwa harta kita lebih berlimpah dibandingkan dengan orang lain alias merasa paling kaya dewe.

Kedua, Faktor Kecerdasan. Sifat sombong juga bisa muncul dalam diri kita karena merasa lebih pintar, lebih berkompeten, serta lebih berwawasan luas dibandingkan dengan orang lain.

Ketiga, Faktor Kebaikan. Sifat sombong bisa timbul karena kita merasa telah banyak melakukan kebaikan. Dibandingkan dengan kedua faktor sebelumnya, faktor ketiga ini tingkatannya jauh lebih hebat lagi. Oleh sebab itu, faktor ketiga ini sudah masuk dalam ranah bahaya laten. Jika kita saat ini merasa jadi orang paling saleh, paling beriman, paling beradab, paling ikhlas dalam melakukan segala hal, itu berarti bahaya laten sombong paling akut tengah mengggerogoti jiwa kita.

Dalam kehidupan berumah tangga, seyogianya masing-masing pribadi pasangan dapat segera mendeteksi dini gejala-gejala penyakit sombong tersebut. Jika hal ini dibiarkan menjalar dalam sendi-sendi kehidupan berumah tangga, maka tunggullah waktunya bahtera yang sedang dikayuh itu pecah di tengah perjalanan.

Bagi kalian yang masih menyandang gelar jomblowan atau jomblowati, hati-hati lho! Jangan-jangan sulitnya jodoh saat ini, salah satunya diakibatkan oleh sifat sombongmu.

Semoga kita semua menyadari akan bahaya laten ini. Semoga kita kita dapat bebesar jiwa serta menyadari atas segala kelemahan yang kita miliki. Semoga kita mau mengakui kebenaran dari seseorang yang telah kita kerdilkan. Sehingga, kebahagiaan tidak lagi enggan bertandang  ke dalam kehidupan kita.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*