Adik Syahrini dan Mahar Mercedes-Benz E250

Mahar Mercedes-Benz E250 Avantgarde putih

Foto: kasakkusuk.com

Para lelaki jomblo yang biasa hidup gali dan gali lagi lalu tutup lubang mungkin ada yang langsung keder menyaksikan berita infotaiment kemarin. Ya, Aisyahrani, adik kandung Syahrini menerima mahar satu unit Mercedes-Benz E250 Avantgarde putih seharga Rp 1 miliar.

Mahar yang menghebohkan ini tak pelak mengundang Majlis Ulama Indonesia (MUI) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ikut angkat bicara. Sebagaimana dikutip oleh Kompas.com, Ketua MUI, Amidan, menyampaikan bahwa pada dasarnya mahar yang diserahkan oleh Jeffry Geovanie kepada adik pelantun tembang ‘Aku Tak Biasa’ itu tidak ada masalah secara agama.

Pendapat tersebut diperkuat oleh Anggota Majelis Pakar DPP-PPP Mustafa M Bong, S.H.. Menurutnya pada zaman Nabi mahar ditekankan dalam bentuk kendaraan, khususnya unta. Sekarang pengertian kendaraan diterjemahkan dalam bentuk mobil atau motor.

Bagaimana halnya dengan etika? Amidan menjelaskan bahwa mahar yang diterima oleh adik Syahriny itu seolah memberi kesan bahwa pernikahan itu sangat mahal dan sulit dilakukan. Berdasarkan sunah Nabi, mahar tidak perlu mewah dan berlebihan. Sesungguhnya mahar itu diutang pun boleh.

Kalian yang saat ini sudah siap melamar seorang gadis dengan modal setengah bonek, tidak perlu terus keder dan berpikir untuk mencicil mobil buat mahar. Lebih-lebih bila berniat mencicil Mercedes-Benz E250 Avantgarde Putih. Sudah, tunda saja niat nekad tersebut. Mahar dalam bentuk cincin besi pun sah-sah saja.

Sebagaiman diceritakan dalam sebuah riwayat, Nabi kedatangan seorang sahabat wanita yang menghibahkan dirinya untuk dinikahi Beliau. Akan tetapi, niat si wanita tersebut tampaknya tidak gayung bersambut. Tak lama kemudian berdirilah seorang pemuda lalu meminta agar Nabi menikahkan dirinya dengan shabat wanita itu.

Melihat tekadnya yang kuat, Nabi pun bertanya kepada si pemuda tentang kesanggupan memberi mahar. Saking miskinya, si pemuda tidak sanggup memberikan mahar sekalipun dalam bentuk cincin besi. Akhirnya, sang pemuda dinikahkan dengan mahar berupa hafalan Al Qur’an, subhanallah.

Kisah yang sangat menyentuh ini sebenarnya merupakan bahan kajian bagi kita bahwa sesungguhnya pernikahan itu bukan sesuatu yang ribet. Maharpun tidak perlu mengada-ada. Ya, semampunya kita saja. Sebagaimana disampaikan oleh Ketua MUI tadi, janganlah membuat kesan seolah-oleh pernikahan itu sesuatu yang njlimet, seolah sangat sangat sulit untuk dijalani.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*