Adakah Semangat Mengubah Nasib pada Sinar Matanya?

passion work“Besok saya menikah, Mas. Doakan lancar, ya!” Teriak adikku di ujung telefon.

“Siapa calonmu?” tanya saya tak kalah berteriak olehnya.

“Si fulan teman sekampung kita. Sebagiaman Sampeyan ketahui, orang tuanya kaya raya, Mas. Tapi dia tidak,” balasnya sambil meninggalkan derai tawa yang ringan.

Adik bungsu saya tak terasa usianya telah beranjak begitu saja. Dia telah tiba di tataran umur kepala tiga. Sepuluh tahun menjalin cinta dalam mahligai pernikahan yang akhirnya harus kandas. Saya telah berusah untuk mempersatukannya agar bisa kembali kepada suaminya dahulu namun takdir harus berbicara lain. Keputusan untuk memilih jalan hidup memang hanya berada pada kuasanya. Saya tak lebih dari sekedar perantara. Tak bisa lebih dari itu.

Kini, di usianya yang tak lagi muda ia mencoba menggapai kebahgaiaan yang dulu harus tertunda dengan suami pertamanya. Calon suami keduanya, sebagiamana disampaikannya, sekedar petani biasa. Hidup dari hasil tanaman palawija yang dijualnya ke kota. Di saat lain ia mengedarkan pupuk kandang hingga ke lokasi pertanian paling terkenal di Kabupaten kami. Dari situlah calon suaminya hidup.

Saya bertanya kepada adik saya tentang semangat calon suaminya untuk bisa memperbaiki hidup. Katanya lumayan besar. Boleh dikatakan tak kenal putus asa dalam kamus hidupnya.

“Baguslah!” kata saya. “Itulah modal utama yang bisa mengubah hidupnya dan hidupmu di masa depan!”

Ya, saya pikir, keturunan orang kaya belum tentu bisa mengikuti jejak orang tuanya dan bisa semakmur nenek moyangnya. Tapi, tidak sedikit mereka yang berasal dari latar belakang orang tua yang amat sangat sederhana tapi bisa hidup berkecukupan di kemudian hari. Sumbernya adalah semangat untuk maju dan keiinginan besar untuk mengubah nasibnya. Itulah sebabnya saya mencoba membesarkan hati adik saya manakala dia memberitahukan tentang calon suaminya yang sementara ini berkehidupan sederhana.

Saya meyakini betul bahwa kehidupan adik saya dan suami keduanya itu akan jauh lebih baik dari sebelumnya selama semangat untuk mengubah nasib masih terus menggelora di dalam dadanya. Saya tidak perlu mengajukan contoh-contohnya karena adik saya sendirilah yang akan menjadi contohnya.

Kelak di kemudian hari, ketika seorang pemuda datang hendak meminang anak gadis saya, hal pertama yang akan saya lihat hanyalah semangat hidupnya. Adakah terpancar di matanya keinginan untuk berjuang dan terus berusaha mengubah hidupnya dari waktu ke waktu? Jika yang tersisa pada sorot matanya hanyalah kepasrahan dan penyesalan karena terlahir dari kelurga miskin, saya akan segera menolaknya sebelum dari mulutnya terucap kehendak meminang anak gadis saya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>