Tulus

EPSON scanner imageCaryn, perempuan berusia 24 tahun ini terbaring lemas di atas ranjang di kamarnya. Pandangan terutuju lap top di meja kerja yang ada di kamar itu.

Terlihat kacamata yang terlipat rapi. Juga beberapa lembar kertas di atas lap top itu. Tersirat rasa tak percaya, pria yang biasa memainkan jari di atas lap top itu telah tiada.

Ya.. pria yang dia cintai itu meninggal. Jenasahnya baru dimakamkan sore tadi. Caryn, perempuan itu pun sesenggukan dengan tiba-tiba. Dia baru menyadari bahwa pria itu tak akan ada lagi di hadapannya. Tak akan ada lagi sosok yang selalu dilihatnya ketika bangun pagi. Semuanya hilang. Termasuk kebahagiaan yang mereka pupuk selama dua tahun terakhir.

“Kenapa ini semua terjadi,” ujarnya lirih.

Air matanya terus mengalir. Dia mencoba mengingat hari-hari terakhir bersama pria itu. Menghabiskan pagi, makan siang bersama, dan saat kekasihnya itu menina-bobokkannya sampe tertidur. Ketulusan yang membuat Caryn jatuh cinta kepadanya.

Namun, kebahagiaan itu tak ada lagi. Tangisan Caryn tak berhenti. Dia merasa, kematian sang kekasih justru karenanya. Andaikata sang pria tak mendonorkan ginjal untuknya, pasti masih ada esok untuk terus bersamanya.

Caryn kecewa. Dia telah pulih dari gagal ginjalnya. Namun rasa bersalah terus menghantui. Sebab ginjal yang ada di tubuhnya adalah organ kekasih yang sudah tiada.

“Kamu pikir aku bahagia dengan keadaan ini,” teriaknya. “Bahagiaku karenamu.. bukan tanpamu,”.

Caryn memang sudah lama menderita gagal ginjal. Bahkan dokter memvonisnya tidak berusia panjang. Seminggu minimal dua kali dia harus menjalani cuci darah untuk mempertahankan usianya.

Berkali-kali jarum menusuk ke tubunya. Kenyataan itu membuat Jefri, pria yang dimaksud itu tidak tega. Dia selalu menangis saat melihat Caryn kesakitan di ruang perawatan.

Jefri pun mengambil keputusan mendonorkan ginjalnya kepada Caryn. Dia melupakan penyakit hemofilia atau darah susah membeku yang dideritanya. Jefri nekat mengambil keputusan itu.

Operasi pun berjalan, pengangkatan ginjal dilakukan dengan lancar. Caryn segera mendapat kabar dari rumah sakit tentang ginjal yang diberikan kepadanya.

Tranplantasi berlangsung lancar. Nyawa Caryn terselamatkan. Setidaknya vonis dokter tentang usia tak bertahan lama, tidak berlaku lagi.

Tapi di ruang operasi, tubuh Jefri masih terbaring. Pendarahan terjadi akibat penyakit hemofilia yang dia derita. Dokter perawat terus berupaya meyelamatkan nyawa pria berkulit putih itu.

Dari hari ke hari tim dokter terus memantau. Jefri pun ta kunjung siuman.

Caryn siuman dari ketidaksadarannya sehabis operasi tranplantasi ginjal. Dia terlihat bahagia ketika dokter mengizinkan dia pulang. Keinginan yang ada, berbagi kebahagiaan kepada Jefri. Namun, harapan itu tak terwujud. Jefri tak ditemukan di apartemennya. Hanya ada sepucuk surat dengan tulisan tinta warna merah muda.

“Sayang, saat kau baca tulisan ini, aku tahu kamu bahagia. Begitu juga denganku. Masa depanmu kembali panjang. Kebahagiaanmu semakin terbuka lebar. Saat itulah, ku ingin kamu menjadi dirimu yang sebenarnya. Kejarlah kebahagiaan yang tertunda. Doa dan pengharapanku selalu menyertaimu.. dari yang mencintaimu Jefri.. “.

Rasa kecewa menyelimuti benak Caryn. Berita kebahagiaan yang hendak dia sampaikan pun tersimpan sejenak. Dia coba menghubungi phone sell milik Jefri. Namun tak ada jawaban apapun dari Jefri. “Kamu ingin menghianatiku pasti,” gumam Caryn.

Dengan langkah tertatih, Caryn yang selalu ditemani Ririn, sahabatnya kembali ke apartemennya. Duduk di kursi roda, perempuan berambut ikal itu terus memendam rasa kecewa.

Keesokan harinya Caryn masih penasaran dengan keberadaan Jefri. Dia pun kembali menghubungi phone sell nya. Tapi sama seperti sebelumnya, tidak ada jawaban dari nomor itu. Rasa kesal semakin menjadi. Dia bermaksud menghubungi kekasihnya itu setelah medical check up di rumah sakit hari itu.

Sementara kondisi Jefri terus melemah, tim dokter sudah berupaya maksimal. Tapi nyawa tidak tertolong. Tepat pukul 10.14 Jefri menghembuskan nafas terakhirnya.

Tim dokter pun melepaskan semua peralatan medis yang menempel di tubuh Jefri. Lalu dibersihkan dan diantar jasad kekasih Caryn itu menuju ke rumah keluarganya.

Ranjang beroda pun dipersiapkan. Tubuh Jefri dipindah dan diangkut menuju mobil jenazah yang akan mengantarnya.

Disaat bersamaan, Caryn tiba di rumah sakit. Dia berjalan masuk dan bertemu dengan tim dokter yang membawa jenazah Jefri. Tanpa rasa curiga, mata perempuan itu tertuju kepada lelaki yang terbujur. Posisinya yang hanya duduk si kursi roda tak membuatnya leluasa melihat wajah pria itu.

Perlahan, Caryn meminta Ririn mendorong kursi roda bergegas mengejar rombongan tim dokter itu. Entah firasat apa yang membuat dia bersikeras untuk melihat wajah pria itu.

Usaha itu tak sia-sia. Caryn pun berhasil menghampiri rombongan tersebut. Dia mencoba bertanya kepada salah seorang perawat yang sedang sibuk membantu memindahkan tubuh Jefri ke mobil jenazah.

“Kapan pria itu meninggal,” tanya dia. “Sejam yang lalu,” jawab perawat itu sambil lalu.

Merasa penasaran, Caryn kembali bertanya. “Apa yang menyebabkan dia meninggal?”.. “Pendarahan setelah organ ginjalnya diangkat,” jelas perawat itu.

“Kami dan tim dokter sudah menasehatinya sejak awal. Bahwa tubuhnya tidak bisa menjalani operasi. Tapi… pria ini sangat tulus. Demi sang kekasih dia rela berikan apa yang dia punya, sekalipun nyawa taruhannya,” imbuh perawat itu.

Caryn terkejut dengar penjelasan itu. Dia mulai meraba-raba pikirannya. Kemana Jefri? ginjal siapa yang menempel pada tubunya?….penuh penasaran dan mulut terbata-bata dia bertanya. “Siapa nama pria yang kamu masukkan ke mobil itu?”.. “Jefri” Ujar perawat itu sembari masuk mobil dan menjauh dari hadapannya.

Ketulusan tak akan bisa tergantikan apapun. Nyawa bukan menjadi hal yang berharga. Dan ketulusan memiliki satu tujuan,, kebahagiaan orang yang dicintainya..

Tags: ×

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*