Pertemanan

Pertemanan’’Tanpa disadari, orang datang dan pergi dari kehidupan kita. Hingga akhirnya tersadar, menjalin pertemanan adalah hal yang mudah. Tapi menjaganya agar tetap abadi, itulah yang tersulit,’’

Ratih, nama itu masih lekang dalam ingatanku. Di tempat ini aku bertemu dengannya dua tahun lalu. Di tempat ini pula kami berpisah setahun lalu. Sudah setahun kami tidak saling sapa. Bagaimana kabar dia, seperti apa wajahnya sekarang, sulit untuk menggambarkannya. Namun, satu hal yang masih abadi, yakni rasa sayangku kepadanya.

Aku berada di tempat ini secara kebetulan. Pada 2012, aku tiba di Denpasar, Bali, untuk kali pertama. Sebuah kota yang lama ingin aku kunjungi. Dan baru sempat di usiaku yang ke 27. Bukan karena aku tak mampu, tapi kesibukan yang merampas waktuku untuk memanjakan diri.

Turun dari pesawat aku menuju kerumunan pengemudi taksi yang menawarkan jasa. Salah seorang bertanya kemana tujuanku. Kuhentikan langkahku sejenak. Percakapan antara aku dan sopir taksi pun terjadi. Kusampaikan keinginanku pertama untuk melihat pantai Kuta.

’’Saya antar ke sana langsung B’li,’’ sapa Anto sang sopir yang mencoba akrab dengan memanggilku B’li. Aku tidak mempermasalahkan, karena menurutku panggilan nyaman didengar.

Segera aku memasuki taksi warna biru itu. Anto pun membawaku keluar dari area Bandara. Perjalanan tidak lebih dari 20 menit dari Bandara Ngurah Rai menuju pantai yang sudah lama aku impikan. ’’Ini B’li uangnya, ‘’’ ucapku dan kemudian keluar dari mobil itu.

Kupandangi laut biru yang terhampar di depanku. Kala itu, matahari belum begitu panas. Kulirik jam ku masih menunjuk ke angka 06.30. ’’Masih pagi. Pantas saja jarang orang di pantai ini, ‘’ kataku.

Aku berlari ke arah pantai menyambu buih ombak yang berlarian ke daratan. Senang dan lega. Akhirnya aku sempat melihat dan merasakan suasana Kuta.

Sepintas memang aneh. Kesibukan kerja membuatku berkali-kali ke negeri tetangga. Tapi justru Bali baru kali ini aku kunjungi. Dan keindahan yang selama ini aku saksikan di televisi benar-benar terbukti. ’’Tidak kalah. Kenapa harus ke Thailand, jika di Indonesia ada,’’ gumamku.

Kuletakkan tas punggung yang selalu menempel di tubuhku. Sejenak aku ingin melepas penat dengan duduk di tepi pantai tersebut. Kuarahkan pandanganku ke sekeliling pantai itu. Tampak beberapa wisatawan asing yang berlari-lari di sekitar pantai. Mereka terlihat menikmati.

Mataku terus berkeliling memperhatikan satu per satu orang yang ada di pantai itu. Hingga akhirnya aku tertuju pada sosok perempuan yang berjalan pelan ke arah laut. Jarak perempuan itu tidak jauh dariku. Hanya 50 meter.

Dia terus berjalan tanpa mempedulikan kiri kanan. Juga tidak mempedulikan terpaan ombak yang mengenai tubuhnya. Seolah-olah pandangannya kosong. Tubuhnya semakin tenggelam. Permukaan air sudah mencapai bagian pinggulnya. Dia mulai terlihat susah berjalan.

Beberapa orang di sekitar pantai mulai memperhatikan dia. Penjaga keamanan yang semula berada di pos pintu masuk berlari mengejarnya. Spontan, aku yang tidak jauh darinya ikut berlari mengejarnya.

Belum sempat menghampirinya, tubuh perempuan itu tumbang terhantam ombak. Terlihat tubuhnya jatuh dan terseret ombat. Kuceburkan diriku untuk berusaha sekuat tenaga mengejar tubuh perempuan itu.

Beruntung, usahaku berhasil. Kuraih tangan perempuan itu. Ku berenang ke tepian sambil menyeret perempuan yang tidak aku kenal. Perlahan hingga akhirnya sampai ke tepi pantai.

‘’Non, woi… sadar…,’’ teriakku sambil menepuk pipinya. Perlahan aku tekan bagian perutnya sambil terus menggoyang tubuhnya. Pipkirku jangan sampai dia tidak sadarkan diri. Beberapa penjaga pantai mulai mendekat untuk membantu.

Belum sempat penjaga pantai itu menyentuh, mulut perempuan itu mengeluarkan air diiringi batuk beberapa kali. Tangannya meraih tanganku yang berada di perutnya. Dia genggam sambil berusaha mengeluarkan air laut yang sudah masuk ke tubuhnya.

’’Kalau lagi berantem sama pacar jangan di bawa ke laut, ‘’ ujar salah seorang penjaga pantai sembari ngeloyor pergi. Awalnya aku tidak paham dengan apa yang dia katakana. Sebab, aku bukan kekasih perempuan itu. Aku juga tidak tahu siapa namanya.

Prinsipku, dia butuh pertolongan. Sedangkan aku orang yang jaraknya paling dekat. Sudah sepatutnya aku berusaha untuk menolong dan membawanya ke tepian.

Tubuh perempuan itu terlihat lemas. Wajahnya pucat dan pandangan matanya sayu menatapku. Aku melempar senyum sembari mengucap. ’’Kalau sudah baikan, aku tinggal. Aku mau melanjutkan liburanku,’’.

Tapi perempuan itu mencegahku. Dia genggam erat kedua tanganku. ’’Jangan pergi sebelum aku membalas budi kepada mu,’’ ucapnya. Aku terdiam dan mencoba mengikuti kemauannya. ’’Iya aku tidak akan pergi. Tapi maaf, aku mau mengambil tasku sebentar,’’ kataku.

Dia lalu melepas genggaman tanganya. Aku beranjak sambil menggerutu. Pikirku, ’’Apes dah, kalau tahu seperti ini, mending aku biarkan dia mati,’’ batinku. Tapi apa boleh buat. Orang di sekitar pantai Kuta tahunya perempuan ini kekasihku. Kalau aku tinggal, bisa jadi aku menjadi bulan-bulanan mereka.

Pasti aku dikira lelaki tidak bertanggung jawab. Atau mungkin orang-orang mengira aku telah menghamili dan tidak bertanggung jawab. ’’Uh… pusing. Sudahlah, akan aku antar perempuan ini ke hotelnya. Setelah itu aku akan pergi darinya,’’ gumamku.

Selesai mengambil tas, kuhampiri lagi perempuan itu. Kali ini dia diam sambil duduk. Rambutnya hitam terurai sebahu. Matanya sipit dengan warna kulit putih. Kuakui perempuan ini sangat cantik. Tapi mengapa dia nekat menceburkan diri ke laut, pasti ada masalah dalam dirinya.

Begitu mendekat, dia sodorkan tangannya kepada ku. Aku raih dan aku tarik agar dia berdiri. Tapi, kelakuan manja tiba-tiba muncul. ‘’Aku belum kuat berjalan, gendong aku,’’ ucapnya.

Aku terkejut dan kesal. Seketika aku berbalik dan berjalan meninggalkan dia. Namun, baru beberapa langkah dia menangis kencang sambil berteriak. ’’Kamu jahat, kamu tidak bertanggung jawab,’’.

Teriakan itu didengar beberapa orang di sekitar pantai. Kulihat wajah mereka yang terkesan mencibirku. ’’Sial.. !! aku benar-benar tidak bisa menikmati liburan ini,’’ ujarku lirih. Kubalikkan badan dan menghampirinya. Terpaksa kuturuti kata-katanya dengan menggendong tubuh mungil itu.

Kubopong dia menuju pintu keluar. Memang, tidak begitu berat. Tapi rasa malu dilihat orang di sekeliling pantai itu membuatku semakin kesal.

Sesampai di tepi jalan, kuhentikan taksi. Perlahan kuturunkan tubuhnya dan membawanya masuk ke dalam taksi. Lalu aku bilang ke sopir taksi. ’’Antar ke hotel ya B’li,’’ ujarku dan kemudian menutup pintu taksi itu.

Aku berjalan menjauh sambil berusaha menghentikan taksi lainnya. Namun benar-benar apes. Sopir taksi yang membawa perempuan itu tidak kunjung pergi. Dia justru keluar dan menegurku. ’’B’li jangan macam-macam. Kalau berbuat harus tanggung jawab, atau saya laporkan ke polisi,’’ teriaknya.

Kembali aku dibuat malu dengan pandangan sekeliling orang di sekitar pantai itu. Aku benar-benar tidak memiliki harga diri. Mulai muncul caci maki dari beberapa orang di situ. ’’Dasar hidung belang. Maunya enaknya doang,’’ . Ups.. kalimat yang membuat panas telingaku. Ampuunn.. mimpi apa aku dengan liburanku. Hancur sudah.

Kuputuskan untuk masuk ke taksi yang mengangkut perempuan itu. Kuliat tubuhnya masih lemas. Mungkin masih ada air laut yang masuk ke tubuhnya. ’’Jalan B’li,’’ ucapku kepada sopir taksi yang sudah terlihat murung.

’’Jalan kemana,’’’ jawabnya. ’’Ya hotelnya lah…masak ke rumah B’li,’’ sahutku. ’’Maksudku, hotelnya dimana,’’ ketus sopir itu.

Aku baru ingat. Sejak dari bandara aku belum chek in sama sekali. Kucoba bangunkan perempuan itu untuk bertanya dimana dia tinggal. Namun, dia tak kunjung bangun. Entah sengaja atau benar terlelap karena peristiwa yang baru saja menimpanya.

Tanpa pikir panjang aku putuskan mencari hotel terdekat. ’’Cari hotel yang biasa saja bang,’’ ujarku. Si sopir nyeletuk dan membuatku semakin panas. ’’Jadi pria itu jangan kurang ajar. Harus siap tanggung resiko,’’. Aku sudah muak dan malas menimpali.

Setelah berputar-putar, akhirnya kutemukan hotel melati yang harganya cukup terjangkau. Kuletakkan perempuan itu di atas ranjang. Lalu, aku beristirahat sejenak untuk memulihkan tenaga. Cukup lelah, selama mencari hotel, perempuan ini selalu minta dibopong.

Sekitar 30 menit berlalu, kuputuskan beranjak dari kamar itu. Aku berniat pergi dan mencari hotel yang lain. Tugas ku sudah selesai. Aku tidak menelantarkan dia. Biar dia beristirahat sejenak di kamar ini. ’’Nanti atau besok, akan kutengok untuk memastikan dia baik-baik saja,’’ pikirku sambil berjalan keluar dari kamar itu.

Kutinggalkan tempat itu dan mencari hotel yang lain. Tidak jauh dari hotel perempuan itu, ada motel yang lumayan bersih. Kuputuskan untuk menginap di tempat itu. Pertimbanganku dekat dengan penginapan perempuan itu. Sewaktu-waktu aku bisa menengok untuk memastikan dia baik-baik saja.

Kuhampiri motel itu dan melakukan reservasi. Tidak lama, akhirnya kudapatkan kamar untuk sejenak melepas penatku.

Kurebahkan tubuhku di kasur. Kuarahkan pandanganku menerawang ke atas. Teringat peristiwa yang terjadi sejak kedatanganku di pulai ini hingga akhirnya aku masuk ke dalam kamar. Menggelikan tapi juga menyebalkan. Aku bahkan tidak tahu siapa nama perempuan itu. Tanpa tersadar, akhirnya aku terlelap.

***

Triiiit… hp ku berdering. Sial, aku lupa mematikan. Kuraih dan kulihat siapa yang menelponku. ’’Ah, nomor baru. Jangan-jangan si bos dengan nomor barunya. Kebiasaan lama,’’ ujarku.

’’Halo,’’ sapaku lembut. Tapi bukan balasan kalimat lembut yang aku terima tapi suara perempuan yang nyerocos. ’’Dasar lelaki tidak bertanggung jawab. Mau kemana kamu, meninggalkan aku dikamar. Data dirimu sudah aku dapatkan melalui fotokopi di reseptionis hotel. Kalau kamu tidak ke sini, aku laporkan ke polisi,’’ ujar perempuan yang aku yakini adalah wanita kurang kerjaan tadi.

Benar-benar sial. Aku chek in di hotel itu menggunakan fotokopi KTP ku. Nomor telepon juga aku tinggal. Pantas dia bisa mencari jejakku.

‘’Hei jangan bisu. Aku tunggu 10 menit atau aku pergi ke kantor polisi,’’ teriaknya. ’’Ok, aku ke situ. Dasar…,’’ aku tutup langsung  teleponku.

Bergegas aku beranjak dari tempat tidur berganti pakaian dan menuju ke hotelnya. Tidak lebih dari 10 menit aku sudah tiba. Ku lihat perempuan itu sudah menunggu di depan lobi.

’’Ah.. aku tahu kamu menginap dimana, ‘’ sapanya saat aku masuk ke lobi hotel. Dia sudah memperhatikanku sejak aku keluar dari motel yang berseberangan dengan tempat dia menginap.

’’Aku Ratih,’’ ujarnya sambil menyodorkan tangannya. Kali ini dia berikan senyum untukku. ‘’Terima kasih sudah menolongku. Aku ingin mentraktirmu sebagai balas budiku,’’ ujarnya.

’’Aku Rizal, ’’ jawabku. Aku mencoba menolak, tapi dia terus memaksa. ’’Kalau kamu menolak, aku akan berteriak mengaku sudah kamu tipu,’’ katanya sambil tangan kanannya mencubit perutku. ’’Aduh.. iya, oke kita jalan,’’ jawabku dan diikuti lepasnya cubitan itu.

’’Huf.. perempuan garang,’’ ucapku lirih tapi sial, dia mendengarnya. ‘’Sekali lagi kamu mengataiku, aku cubit lagi,’’ . ’’Ups ampun nona cantik,’’’ celotehku.

Kami pun berjan berdua mengitari jalanan di kota itu. Tanpa sadar tangannya menggelayut di lenganku. Kami benar-benar seperti sepasang kekasih yang sedang menikmati liburan di Pulai Bali.

Selama perjalanan kami saling berkomunikasi. Mulai ku tahu siapa dia. Perempuan ini asli Bandung. Sudah setahun dia ditinggal mati tunangannya. Pria yang dicintainya meninggal saat berenang di pantai itu malam hari. Tidak ada yang tahu.

Besok genap setahun hari kematiannya. Tadi pagi, saat berada di pantai, Ratih terhalusinasi seolah-olah diajak berenang kekasihnya. Karena itu, dia berjalan ke tengah laut tanpa mempedulikan sekelilingnya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*