Kepasrahan kepada Tuhan

kepasrahan’Semua di dunia ini milik Allah. Semua akan kembali kepada Nya. Tenangkan jiwamu. Sebab yang tenang adalah yang menang. Dan yang menang adalah yang tenang’’

’’Vin, hari ini kamu masak apa,’’ sapa ibuku pagi itu. ’’Cuma sayur sup, kesukaan mas,’’ jawab istriku. ’’Sini biar ibu yang masak. Kamu siapkan semua perlengkapan mas mu. Dia berangkat ke luar kota pagi ini,’’ ucap ibuku sembari mengambil sayur yang semula dipegang istriku.

Percakapan itu ku dengar dari balik pintu. Bahagia rasanya melihat mereka bisa akrab. Selayaknya orang tua dan anak. Mereka juga biasa bercanda tawa.  Serasa kesempurnaan hidup telah aku dapatkan.

Aku menghela nafas panjang dan melangkah kembali ke ruang kerja. Terduduk sambil mengingat apa yang baru saja aku lihat. Indah sekali pemandangan di dapur meski hanya beberapa menit saja.

Tak lama terdengar suara pekik dua anak balita bermain di taman. Ku coba melongok ke jendela. Dua putriku sedang merajuk kepada sosok orang tua yang duduk bersandar di kursi goyang. Ayahku, dialah orang yang telah mendidikku sejak kecil hingga dewasa.

Penuh kesabaran dia curahkan nasehat kepadaku. Meski sesekali nasehat itu kupandang sebelah mata. Namun aku sadari, dari nasehat itu aku menjadi lelaki yang berhasil. Menemukan keindahan hidup yang belum tentu dirasakan semua orang. Aku bersyukur atas karunia ini.

Perlahan kulangkahkan kaki ini menuju meja kerjaku. Terduduk kembali sambil mengucap syukur. ‘’Ya Allah, kesempurnaan hidup telah aku dapatkan. Semua pelajaran menguatkan hatiku. Menyadarkan betapa sayangnya Engkau kepada ku. Hanya rasa syukur yang selalu terucap kepada Mu. Meski aku sadar, suatu saat kebahagiaan ini akan terambil kembali. Karena kebahagiaan mutlak milik Engkau,’’ gumamku.

***

’’Ayah, ini tehnya,’’ suara itu membangunkan lamunanku. Istriku, sosok yang sangat aku sayangi. Dia muncul dari balik pintu sembari membawa teh hangat dan diletakkannya di meja kerjaku. ’’Ayah rencana berapa hari ke luar kota? Berapa pakaian yang harus aku siapkan?,’’ ujar istriku. Terlihat dari sorot matanya rasa berat ketika hendak kutinggal ke luar kota.

’’Aku cuma tiga hari Ma. Tiga stel saja cukup,’’ jawabku. ’’Ma, sini. Aku ingin mengatakan sesuatu,’’ kataku sambil menarik lembut tangannya.

’’Beberapa hari ini aku pergi. Titip anak-anak juga kedua orang tuaku. Aku sangat bangga kepadamu,’’ sambungku. ’’Sudah kewajibanku Yah,’’ jawab istriku diiringi kecupan kecil di keningku. Bergegas dia keluar dari ruang kerja dan mempersiapkan kebutuhanku selama beberapa hari ke depan.

Kuambil cangkir dan sedikit meminumnya. Kembali rasa syukur muncul dari hatiku. Kebahagiaan ini tidak mudah kudapatkan. Jalan terjal aku lalui. Penuh haru, bahkan seringkali harus terbayar dengan air mata. Aku teringat saat pertama mengenal istriku.

’”Vina,’’ ucap perempuan itu saat aku pertama menjabat tangannya. Kala itu, aku sedang rapuh. Hubunganku dengan tunanganku sedang di ambang kehancuran. Kecocokan tak lagi aku temukan. Ingin berpisah, tapi kedua orang tuaku sangat menyayanginya.

Kupersilakan perempuan itu duduk. Pembicaraan terjadi antara aku dan dia. Semua murni persoalan bisnis. Tidak ada sedikitpun niat untuk mendalami siapa dia. Begitu juga sebaliknya, Vina sangat menghormati diriku. Tak pernah ada pertanyaan yang menyangkut pribadiku.

Komunikasi terus terjalin. Canda tawa mulai menghiasi pertemanan kami. Dari hubungan bisnis akhirnya menjadi pertemanan yang erat.

Di sisi lain, hubungan antara aku dan tunanganku semakin renggang. Pertengkaran sering terjadi. Penyebabnya pun sepele. Perlahan aku semakin membencinya. Hingga aku putuskan untuk berpisah dengannya.

Namun, keinginan tidak seperti yang diharapkan. Keegoisannya membuat aku semakin terpuruk. Tak mau disalahkan dan selalu mencari kesalahan orang lain. Nama Vina dikaitkan dalam masalah ini. Perempuan itu tidak tahu apa-apa. Parahnya, dengan pintar ia karang cerita tentang Vina kepada orang tuaku.

Aku shock, tetapi semua itu tidak membuatku mundur. Aku tetap memutuskan untuk berpisah. Meski caci makian dari kedua orang tuaku terus ditujukan kepadaku. Semua dan semua, anak durhaka-lah, anak tak tahu diri-lah. Ucapan-ucapan yang membuat panas telingaku.

Berusaha bersabar tertanam dalam benakku. Prinsipku, aku lahir sendiri hidup pun sendiri. Karena itu, keputusan ini aku ambil sendiri. Jika nantinya aku hidup sendiri, itu sudah jalan hidupku. Ku yakin Tuhan sudah menyiapkan kabar baik buah dari kesabaranku.

Perlahan, aku bisa berpisah dengannya. Seiring berjalan waktu, aku mulai mengagumi sosok Vina. Perempuan yang disebut-sebut menjadi penyebab rusaknya pertunangan ini memang kharismatik. Dia sangat pengertian, hormat kepada orang tua, dan sangat menghargai orang lain.

Namun tidak semudah itu mendapatkannya. Vina pun selalu menjaga jarak. Dia tidak ingin dipersalahkan atas rusaknya pertunanganku. Bahkan kedua orang tuaku tak mengizinkan aku berhubungan dengannya. ’’Aku sudah buruk di mata keluargamu. Aku tidak bisa menjadi pendampingmu,’’ kalimat itu dia ucapkan saat aku mengutarakan cinta kepadanya.

Penolakan tidak membuatku patah arang. Aku terus berusaha dan meyakinkan bahwa aku benar-benar mencintainya. Perlahan, dia pun mengerti dan menerima cintaku. Perjalanan belum berakhir. Aku harus membawanya untuk mengenal kedua orang tuaku.

Kesan buruk muncul saat aku mempertemukannya dengan kedua orang tuaku. Caci  makian kembali kuterima. Aku disuruh mengakhiri hubungan ini. Tapi, niatku bulat. Aku yakin, perempuan inilah yang terbaik untukku. Perempuan inilah yang akan mengisi kehidupanku. Keyakinan yang membuat aku menentang semua perintah orang tuaku.

Aku kembali sendiri. Tak lagi dianggap anak. Dan tak lagi memiliki saudara. Semua kakak-kakaku pun menyisihkan aku. Sungguh linangan air mata terus memaksa keluar. Aku berusaha menahan. Jangan sampai kekasihku melihat kerapuhan ini. Aku harus kuat, harus tegar. Karena aku sebagai pengayomnya.

Termenung aku di sebuah masjid. Pandangan mataku tertuju pada sosok orang tua yang sedang menyapu. Dia melihatku dan melempar senyum. ’’Sudah salat,’’ sapanya. ’’Sudah bapak,’’’ aku menjawab sambil berdiri menghampirinya.

’’Aku sudah melihatmu dari tadi. Wajahmu murung, ada apa ?’’’ ujarnya menelisik. ’’ Ah, itu perasaan bapak saja. Saya baik-baik saja. Hanya numpang  berteduh,’’ jawabku .

Dia menepuk bahuku sambil berkata. ’’Semua di dunia ini milik Allah. Semua akan kembali kepada Nya. Tenangkan jiwamu. Sebab yang tenang adalah yang menang. Dan yang menang adalah yang tenang,’’ kalimat itu membuatku terdiam. Sosok lelaki tua yang tak kutahu namanya itu langsung pergi.

Aku masih berdiri sambil merenungkan kalimat itu. Perlahan terus mencari, memaknai semua yang diutarakan kepadaku.

Tidak mudah mencari makna tersirat dalam kalimat itu. Namun jika Allah berkehendak, pasti ada jalan. Aku bertemu dengan tukang becak yang berhenti di jalan. Ban belakangnya meletus. Penumpang yang seharusnya dia antar terpaksa berpindah ke becak lain.

Ahmad Husain namanya. Usianya sudah 50 tahun, dua kali lipat dari usiaku. Dia berusaha mengganti ban yang meletus tadi. Rasa iba muncul dan memanggilku untuk membantunya. ’’Bapak, kenapa tidak dibawa ke bengkel,’’ kataku. ’’Hari ini belum ada pemasukan. Penumpang tadi lupa membayar. Saya harus menggantinya sendiri. Beruntung masih ada ban lama yang saya simpan,’’ ucapnya.

Tidak ada sedikitpun raut sedih atau kecewa. Dia tetap senyum sambil mulutnya tidak berhenti bergerak. Perlahan mulai terdengar kalimat dzikir yang selalu diucapnya. Aku semakin kagum dengan lelaki ini. Ku coba membantu semampuku. Mulai membuka baut dan melepas ban yang sudah rusak.

Perlahan, Pak Husain mulai berbicara. ’’Jangan pernah mengeluh atas semua yang menimpamu. Yakinlah bahwa ini jalanmu. Terimalah dengan ihlas,’’ katanya. ’’Keihlasan ini yang akan mengantarkan mu menuju kebaikan. Karena Allah Maha Tahu apa yang dibutuhkan hamba Nya,’’ sambung dia.

Aku hanya mengangguk pelan. ’’Anak muda, manusia itu milik Allah. Jalan hidupnya sudah ditentukan. Kita tidak bisa mengelak atau mengatur jalan hidup yang sudah ditentukan. Apapun yang diberikan kepada kita, harus disyukuri. Wong kita ini memang milik Nya. Mau diapakan, juga sudah menjadi hak Nya,’’ kata dia sambil memasang ban di roda becaknya.

’’Pada titik tertentu, yakin Allah melihat ketulusan kita selama menjadi hamba Nya. Tidak pernah mengeluh dan terus beribadah meski cobaan menerpa. Saat itulah Allah berikan kabar terindah untuk kita,’’ kalimat itu menjawab semua pertanyaanku. Aku paham dan benar-benar paham. Karena itu, hadapilah masalah dunia ini dengan tenang. Karena dengan ketenangan itu, kemenangan bisa diraih.

’’Subhanallah,’’ batinku. Semua ini tidak lepas dari jalan hidupku. Aku tidak boleh takut dan resah. Selama niat kita baik, Allah pasti akan berikan jalan yang terbaik.

Aku mulai merajut kembali kehidupanku yang sempat terpuruk. Vina yang penuh kesabaran terus membangkitkan semangatku. Aku semakin menyayanginya. Tekanan yang terus datang semakin menguatkan hati kami. Terpupuk kesabaran hingga kedewasaan kami terbangun.

***

Triiiittt… telepon genggam ku berbunyi pagi itu. Bergegas aku mengangkatnya.  ”Halo, sudah bangun,”. Suara khas yang sudah lama tidak aku dengar.Ya.. itu suara ibuku. Aku baru ingat, hampir tiga bulan aku tidak meneleponnya. Bukan maksud jahat, tapi memang mereka sudah tidak menganggapku anak. ’’Aku sudah di depan rumahmu,’’ suara itu semakin mengejutkanku.

Aku beranjak dari kamar tidur dan menuju ruang tamu. Ku buka pintu dan memang benar, orang tua itu sudah ada di hadapanku. Ku lihat tiga kakakku tersenyum. Serasa masih tak percaya. Ku usap kedua mataku. ’’Ini aku Gus,’’ sapa kakakku sambil berusaha memelukku. Aku persilakan mereka masuk.

Terlihat dari wajah mereka rasa lelah setelah menempuh perjalanan jauh. Aku masih terdiam. ’’Bagaimana kabarmu. Lama tidak pernah telepon ?’’’ Tanya ibuku. ’’Maaf, saya tidak berani,’’ jawabku.

Tangan dengan kulit yang mulai mengeriput itu membelai rambutku. Air mataku mulai keluar. Aku tidak banyak berkata. Di sisi lain bahagia mendapat tamu orang yang aku sayangi. Namun, sisi lain aku takut. Jangan-jangan kedatangan mereka untuk mempertegas agar aku mengakhiri hubunganku dengan Vina.

’’Assalamualaikum,’’’. Aku terkejut dengan suara itu. Suara Vina yang pagi itu memang berencana datang ke rumahku. Spontan aku berdiri dan menghampirinya. Mencoba untuk melarang sebelum ibuku tahu keberadaan dia.

Namun, belum sempat memintanya pulang, Ibu sudah terlebih dahulu mengintip dari balik pintu. ’’Suruh masuk. Sini, aku ingin tahu siapa sebenarnya perempuan ini,’’ ujar ibuku.

Vina pun masuk dan menyambut tangan ibuku. Ini adalah kali kedua dia bersalaman dan mencium tangan. ’’Gus, kamu ndak kerja,’’ kata ibuku. ’’Saya bisa ambil libur bu,’’ jawabku. ’’Sudah, kamu pergi sana. Biar Vina menemaniku hari ini,’’ujar Ibu.

Pandanganku tertuju pada Vina. Aku mencoba mendekat dan meyakinkannya. Dia berkata ’’Yakinlah. Tidak ada apa-apa. Pasrahkan semua pada Allah,’’ .

Meski ragu, aku terpaksa berangkat meninggalkan rumah itu. Aku tidak tahu apa yang terjadi di rumah. Apakah Vina dimarahi habis-habisan oleh kedua orang tuaku. Atau sebaliknya, Vina tidak dimarahi, tapi langsung diusir. Pikiran itu mengganggu konsentrasiku.

Tepat pukul 12.00, aku memutuskan izin pulang. Alasan sakit membuat bos mengabulkan permohonan izinku. Aku bergegas pulang. Selama 20 menit perjalanan, pikiranku berkecamuk. Rasa khawatir menyelimuti. Aku tidak ingin menyakiti perasaan Vina.

Sampai depan rumah, kulihat semuanya sepi. Perlahan aku membuka pintu. Tidak ada orang di rumah. ’”Ibu, ayah, kakak, kalian dimana,’’ sapaku. Tak ada seorang pun yang menjawab.

Aku coba menelepon salah satu dari mereka. Tapi semua telepon tidak aktif. Aku semakin bertanya-tanya, kemana mereka.

’’Vina??, ya.. dimana dia?,’’ batinku. Bergegas aku menelponnya. Nada sambung berkali-kali, tapi tak kunjung diangkatnya. Aku khawatir dan memutuskan untuk pergi ke rumahnya. Saat itu, aku hanya ingin meminta maaf. Karena aku yakin, dia sakit hati dengan perkataan orang tuaku.

Perjalanan menuju ke rumah Vina cukup singkat. Panas terik tidak membuatku mengeluh. Karena dalam pikiranku hanya kabar Vina setelah bertemu kedua orang tuaku.

’’Assalamualaikum, Vina,’’ kataku sambil mengetuk pintu. Berkali-kali kuketuk, tetap saja pintu tidak ada yang membukakan pintu. Aku mulai putus asa. Aku yakin dia sakit hati dengan perkataan keluargaku dan akhirnya tak mau menerima kedatanganku.

Kuputuskan untuk kembali ke rumah. Kubalikkan badan dan melangkah menjauh dari pintu rumah itu. Namun, baru dua langkah, terdengar suara dari dalam. ’’Waalaikum salam,’’ . Itu suara Vina. Aku berbalik dan menuju pintu itu.

Tidak lama Vina muncul dari balik jendela. Terlihat mukena yang masih melekat di tubuhnya. ’’Maaf baru selesai salat,’’ katanya sambil membuka pintu. Aku langsung menggenggam tangannya dan meminta maaf. Lalu meyakinkan bahwa aku akan selalu mencintainya. Apapun yang terjadi.

Vina hanya tersenyum. Dia mempersilakanku duduk. ’’Tenangkan dulu. Semua yang ada di pikiranmu belum tentu benar,’’ katanya. ’’Tadi, pukul 10.00 saya mengantarkan Ayah dan Ibu ke bandara. Mereka tidak sempat berpamitan sama kamu. Hanya menitipkan surat ini. Aku sempat dipeluk sebelum akhirnya Ibu menitikkan air mata,’’ kata dia.

Ku terima surat itu dan kubuka. Perlahan aku membacanya. ’’Anakku. Sekian lama kamu terdiam membuat Ayah dan Ibu berpikir. Aku tidak tahu apa langkah kami salah. Aku benar-benar membenci kekasihmu. Tapi itu dulu. Tadi pagi, setelah aku mengenalnya, aku mulai tahu alasan mengapa kamu sangat mencintainya. Ibu tidak bisa menuntut banyak atas dirimu. Hanya berdoa semoga keputusanmu tepat. Semoga kalian bahagia. Ajak dia pulang agar kami bisa lebih mengenalnya,’’ seketika itu aku bersujud.

Aku yakin semua ini tidak lepas dari kehendak Nya. Keihlasan dan kesabaran terbalaskan dengan jawaban yang indah. Ini jalan hidupku. Kebahagiaan tidak didapat begitu mudah. Semua butuh waktu dan pengorbanan. Keyakinan dan niat tulus yang membuat keinginan ini terwujud.

***

’’Ayah, sudah siang. Mau berangkat jam berapa?,’’ suara istriku membangungkaku dari lamunan masa lalu itu. Aku berdiri dan menghampirinya. Kupeluk dia. Kesabarannya yang menguatkanku.

Kami berjalan keluar dari ruang kerja. Terlihat beberapa menu masakan sudah siap di meja makan. Masakan ibuku yang dibuatnya tadi pagi. ’’Ayo makan dulu. Habis itu, aku mau ajak istrimu belanja ke pasar. Persediaan dapur sudah habis,’’ ujar Ibuku.

Kupanggil ayahku untuk makan bersama. Satu meja makan penuh kebahagiaan. Berkah dari Allah atas pengorbanan, kesabaran, dan keihlasan menjalani hidup.

Sampai sekarang, saya sangat yakin bahwa ’”Diri ini milik Allah, selayaknya akan kembali kepada Nya. Berserah kepada Nya adalah jalan yang terbaik,’’……

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*