Musibah Tak Selalu Jadi Musibah

Musibah Tak Selalu Jadi MusibahSaat menunggu kehadiran Presiden SBY di Posko Gabungan Penanggulangan Bencana Gunung Kelud, Senin 17 Februari 2014, beberapa pejabat tampak berkumpul di lapangan Desa Wates, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri. Mereka duduk ngariung berdiskusi di bawah sebatang pohon yang meranggas terkena dampak erupsi Kelud.

Pejabat yang saya kenal pada diskusi dadakan itu, antara lain, Wagub Jatim Syaifullah Yusuf, Menteri PU Djoko Kirmanto, Menteri ESDM Jero Wacik, Ketua BNPB Syamsul Ma’arief, serta Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Surono yang biasa disapa Mbah Rono.

Ketika seorang wartawan nimbrung dalam diskusi itu dan menyampaikan komentarnya tentang gangguan kesehatan yang bakal diderita warga akibat paparan debu vulkanik, Mbah Rono tampak meradang.

“Jangan dihisap debunya, jual saja pasirnya. Jika kita sekedar memandang erupsi Kelud ini dari sudut bencana dan bahaya, maka hanya musibahlah yang kita pikirkan. Pasir yang dimuntahkan Gunung Kelud volumenya mencapai ratusan juta meter kubik. Sangat baik jika digunakan untuk membangun jalan tol, bandara, serta fasilitas-fasilitas untuk pelayanan publik lainnya,” tegas ahli vulkanologi ini berapi-api.

Letusan Gunung Kelud memang telah memorakporandakan kehidupan ribuan warga yang terletak di Kabupaten Kediri, Malang, dan Blitar. Bencana itu telah terjadi dan tak bisa dihindari.

Syukurlah, dari sejumlah pengungsi yang saya temui di Balai Desa Wates Kediri maupun di Balai Desa Kesambon Malang, masih ada di antara mereka yang menampakkan raut wajah optimismenya. Mereka meyakini bahwa debu yang disebarkan Kelud kelak akan menjadi pupuk organik terbaik bagi lahan pertanian mereka. Sementara pasir dan kerikil yang menumpuk pasti memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi; kelak akan menjadi rezeki penopang kehidupan keluarganya.

Musibah, jika kita cerdas dalam menapakinya, akan menjadi sebuah peluang untuk sebuah perubahan ke arah yang lebih baik. Sayang, sering kali kita memandangnya hanya sekedar musibah. Yang terjadi setelahnya adalah keputusasaan dan rasa kehilangan yang sangat mendalam.

Bagi kita yang saat ini tengah galau karena baru saja diputuskan secara sepihak oleh seseorang yang kita cintai, ada baiknya belajar kepada para pengungsi Gunung Kelud yang masih menampakkan optimismenya.

Ketika seseorang yang kita kasihi itu meninggalkan atau mencampakkan kita begitu saja, sebenarnya itu semua rencana yang telah Tuhan persiapkan. Sama halnya dengan korban Gunung Kelud yang akan menikmati suburnya lahan pertanian mereka, kita pun sesungguhnya akan menikmati kebahagiaan setelah ditinggalkan seseorang yang kita kasihi itu.

Insya Allah, sang pengganti akan menunjukkan sikap dan perhatian jauh lebih positif dibandingkan dia yang telah meninggalkan kita. Optimistis saja seperti halnya para korban erupsi Gunung Kelud yang telah saya ceritakan di atas.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*