My Name is Salamun

SarpakunSalamun duduk termenung di Pelataran belakang rumahnya. Ia masih belum percaya dengan telepon yang baru saja diterimanya. Bagaimana tidak, si penelopon adalah bekas gebetannya. Ya, perempuan itu adalah masa lalunya.

Dulu ia naksir berat sama Julaiha. Hanya saja ia selalu terkendala dengan rasa rendah dirinya. Salamun menyadari bahwa orang tuanya hanyalah seorang pegawai rendahan. Wajahnya juga masuk dalam kategori tidak tampan. Ada sedikit bekas luka di wajahnya. Inilah yang membuatnya selalu rendah diri di hadapan siapa pun. Sangat kontradiktif dibandingkan penampilan kawan-kawan SMA-nya waktu itu. Di mata Salamun, mereka tampak cantik dan ganteng. Pakaian mereka pun serba glamor. Sepeda motornya gonta-ganti sesuai keluaran terbaru.

Salamun hanyalah anak seorang pegawai rendahan. Ia tak berani mimpi bisa membeli pakaian bagus seperti kawan-kawan sebayanya. Ekonomi keluarganya memang kembang kempis. Jadi, jangan terperanjat, jika pakaian dalam Salamun berjumlah dua potong saja. Bisa diperkirakan berapa banyak jenis pakaian lainnya.

Untuk urusan cinta Salamun hanya bisa memendamnya saja. Sebenarnya sih ada sekitar selusin kawan perempuan SMA-nya yang pernah mengisi hatinya. Tapi rasa rendah dirinya selalu menghalangi buat menyatakan cintanya. Paling banter Salamun hanya berani titip salam lewat dinding kamar mandi sekolahnya. Dan itu pun tak bisa bertahan lama. Keesokan harinya seseorang telah menghapus salam Salamun itu.

Tuhan menakdirkan Salamun bisa menuntut ilmu di sebuah perguruan tinggi negeri ternama. Salamun bukanlah orang yang pintar-pintar amat. Karena itu, ketika bersaing untuk mendapatkan beasiswa, selalu kalah oleh kawan-kawannya yang lebih cerdas. Maka jadilah Salamun mahasiswa yang seluruh biaya kuliahnya diperoleh dari hasil menyisihkan uang makan keluarganya.

Sedikit kemajuan dialami oleh Salamun. Ia mulai mendekati, atau lebih tepatnya, didekati oleh Julaiha teman sekelasnya. Salamun pun mulai meningkat keberaniannya. Ia mulai sering bercengkrama dengan temannya itu. Mungkin akibat dari pertemuannya itu, Salamun kemudian mulai jatuh cinta kepadanya.

Setiap kali ingin menyatakan segala perasaannya itu, Salamun selalu terhalangi oleh rasa rendah dirinya. Ia selalu berpikir bahwa Jualaiha hanyalah menganggapnya sebagai teman biasa saja. Apa yang bisa menarik perhatian gebetannya itu. Wajah Salamun biasa-biasa saja. Bekas luka di wajahnya itu telah menenggelamkan dirinya pada perasaan terpuruk luar biasa. Salamun pun menyadari bahwa otaknya juga tidak cerdas. Orang tuanya miskin. Jadi apa yang bisa menarik perhatian Julaiha.

Salamun pun berjuang melawan rasa rendah dirinya. Hingga akhirnya, ia memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya itu di sebuah objek wisata. Kebetulan ada kegiatan rekreasi bersama ke tempat itu.

Waktu yang ditunggu-tunggu pun tibalah sudah. Tiba-tiba Salamun melihat Julaiha berkelebat, berangkat memisahkan diri menuju ke suatu tempat. Pikir Salamun, ini sebuah peluang besar. Beberapa menit kemudian, Salamun pun segera menyusulnya. Dan olala, langkah Salamun pun kemudian terhenti. Rupanya Jualiha sedang berduaan dengan salah satu karib Salamun.

Dua dekade pun berlalu, kini Salamun jauh berpisah dengan kawan-kawan kampusnya. Dan tanpa dinyana dan diduga, Salamun bisa mendengar suara Julaiha kembali lewat telepon genggamnya. Julaiha mengungkapkan segala perasaannya. Sesungguhnya sejak dulu Jualiha menunggu ungkapan pernyataan cinta Salamun kepadanya. Ia pun bertanya tentang ada atau tidaknya perasaan cinta terhadap dirinya.

Pertanyaan itu kemudaian menggantung tak berjawab. Sebuah kesia-siaan. Salamun bertanya kepada Tuhannya mengapa kesempatan itu datang ketika dirinya sudah dilingkupi kasih sayang kepada anak dan isterinya.

Salamun mengusap matanya. Pelan-pelan ia tutup luka lamanya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*