Salamun, Rismayanti, dan Whitney Houston

Whitney HoustonSatu langkah maju dalam urusan cinta telah dilewati oleh Salamun. Cintanya tidak lagi bertepuk sebelah tangan. Rismayanti adik kelasnya waktu kuliah dulu mau menerima cintanya.

Ceritanya, setelah dua tahun bekerja di sebuah kota, Salamun iseng-iseng jalan-jalan ke kampusnya dan mampir ke sekretariat unit kegiatan mahasiswa tempatnya dulu beraktivitas. Dilalah kersaning Allah, tatapannya beradu pandang dengan sorot mata Rismayanti. Salamun kali ini sudah sedikit pede, maklum dia sudah punya pekerjaan tetap. Dia pun kemudian nembak Rismayanti. Prosesnya tidak ribet. Seminggu kemudian Salamun sudah menerima jawaban cinta dari Rismayanti.

Salamun kemudian pulang  ke kota tempatnya bekerja, tentunya dengan senang hati. Selama setahun ia melakukan long distance relationship. Tak ada kontak lewat SMS, maklum waktu itu teknologi telepon seluler belum ditemukan. Rismayanti dan Salamun saling berkirim kabar lewat surat semata. Kalau sudah kangen berat pada kekasihnya itu, malam-malam Salamun berangkat ke kantor Telkom untuk  berinterlokal dengan kekasih pujaannya itu.

Enam bulan kemudian Salamun mendapakan kesempatan cuti. Waktu sangat berharga itu dimanfaatkannya untuk menemui Rismayanti. Sayang kekasihnya itu sedang tidak berada di kampusnya. Rupanya Rismayanti sedang ber-KKN di sebuah desa di sebuah kabupaten yang terletak lumayan jauh dari kampusnya.

Demi cintanya, Salamun pun kemudian menyusul Rismayanti. Tuhan yang Mahabaik kemudian mempertemukan kedua insan yang sedang kasmaran itu. Ya, di tempat itu Salamun merasakan betapa suka citanya Rismayanti menyambut kehadirannya. Salamun pun kemudian menyampaikan isi hatinya. Ia ingin mempersunting Rismayanti.  Ya, Salamun ingin segera mendengar langkah-langkah kecil anaknya segera memenuhi rumah cicilannya.

Gayung pun bersambut. Rismayanti menerima bulat kehendak Salamun. Ia pun lalu meminta Salamun agar menemui kedua orang tuanya. Rismayanti menyampaikan bahwa ia sudah banyak bercerita tentang Salamun kepada kedua orangtuanya.

Tanpa menunggu lama Salamun pun berangkat menuju ke rumah orangtua Rismayanti. Sekian lama bertamu, ia tak ditemui oleh ayah Rismayanti. Salamun pun kemudian berpamitan kepada ibunda Rismayanti dan keseesokan harinya ia pulang ke kota tempatnya bekerja.

Seminggu kemudian ia menerima sepucuk surat dari Rismayanti. Isinya pemberitahuan bahwa ia dan kedua orangtuanya telah menerima lamaran seseorang.  Tiga hari setelah itu, menyusul kemudian surat undangan pernikahan Rismayanti.

Betapa hancurnya perasaan Salamun. Konsentrasinya  saat mengikuti rapat direksi di kantornya buyar sama sekali. Langit-langit ruangan rapat serasa berputar. Para peserta rapat di matanya tampak mencemoohkannya. Ya, siang itu perasaan Salamun benar-benar tercabik-cabik.

Malam hari Salamun hanya berdiam seorang diri. Ajakan teman-temannya untuk menikmati malam minggu tak diiyakan sama sekali. Ia asyik menyimak Whitney Houston melantunkan tembang I Will Always Love You. Sungguh, soundtrack film The Bodiguard itu sangat sejalan dengan nuansa batinnya malam itu.

Diam-diam Salamun mengeluarkan kaset dari tape recordernya. Ia bungkus kaset itu dengan segenap perasaannya. Ya, Salamun menjadikan kaset itu sebagai kado pernikahan kekasihnya.

Dua dekade berlalu, Salamun mendengar berita kepergian Whitney Houston lewat salah satu stasiun televisi nasional. Satu hal yang menggelayuti pikirannya saat ini: Masihkah Rismayanti mengenang lagu  I Will Always Love You sebagai tanda mata cintanya?

Untuk kesekian kalinya, Salamun menghela napas sambil menerawang masa lalunya. Di usianya yang tak muda lagi, ia masih ingat penggelan lirik lagu kenangannya. Lamat-lamat ia lantunkan lagu kado pernikahan bagi kekasihnya itu.

And I will always love you.
I will always love you.
You, my darling you. Hmm.

 

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*