Restleting Sepatu yang Macet dan Jodoh

Man ShoesMinggu lalu, ketika ngidam ingin mengganti sepatu, tiba-tiba tak dinyana tak diduga, boss yang saya cintai menghadiahi saya sepasang sepatu baru. Ya, hidup saya memang serba pas-pasan. Pas butuh sesuatu, pas ada saja orang yang bisa memenuhi kebutuhan tersebut.

Ada satu hal yang kurang dari sepatu tersebut, restleting untuk belahan kanan tidak bisa ditutup. Saya coba oleskan lilin di permukaannya. Hasilnya, tetap saja macet. Seorang kawan menyarankan saya agar menggunakan olie untuk mengurai kemacetan tersebut. Ternyata, juga tetap macet.

Sungguh senewen saya dibuat sepatu baru itu. Timbul rencana untuk melegonya, tapi merasa sayang. Soalnya, sepatu itu konon dibeli di luar negeri. Kenangan yang tak boleh dilupakan, tentunya.

Seminggu saya berkutat dengan dilema yang menimpa sepatu itu. Sampai akhirnya, ketika menginjak minggu kedua, saya menemukan biang keladi alias penyebab macet restletingnya tersebut. Rupanya saat ditarik, kepala resleting tersebut tertahan oleh lapisan kulit yang ada di sisi kirinya. Setelah bagian tersebut diungkit sedikit, olala lancarlah sang restleting ketika dibuka maupun saat dikatupkan.

Sejujurnya saya akui bahwa proses melancarkan buka tutup restleting sepatu itu telah menguak kenangan lama saya. Betapa tidak, selama bertahun-tahun saya mencoba mendekati lawan jenis untuk saya jadikan pendamping hidup. Ada yang menolak secara halus namun tidak sedikit pula yang menolak cinta saya secara kasar.

Pada kesempatan berikutnya, ada seseorang yang mengenalkan saya pada adiknya. Saya sunggguh tertarik dengan paras cantiknya. Segala upaya saya lakukan agar bisa menarik hatinya. Dan selanjutnya, entah karena dorongan apa, dia kemudian menerima cinta saya. Saya sampaikan berita gembira ini kepada kedua orang tua saya. Tentu saja mereka berdua bergembira menerimanya.

Singkat cerita, saya dan kedua orang tua kemudian melaksanakan lamaran hingga terjalinlah pertunangan kami. Cincin yang melingkar di jari menjadi pertanda ikatan cinta kami yang kelak akan berlanjut menginjak mahligai rumah tangga.

Dua bulan kemudian, terjadilah pemutusan sepihak. Saya tidak mengerti mengapa gadis yang amat saya sayangi memutus pertunangan kami begitu saja. Dunia serasa kiamat rasanya.

Satu tahun berjalan pascaputus pertunangan itu, saya melihat kelabat gadis cantik pagar ayu pada pernikahan teman saya. Karena merasa jatuh hati, saya mencoba mencari informasi tentang dirinya.

Seminggu kemudian, saya sambangi rumahnya. Tentu saja dia merasa kaget bertemu dengan seorang lelaki asing yang tak jelas asal-usulnya. Setelah disampaikan bahwa saya adalah salah satu undangan pada pernikahan temannya, barulah dia meras jelas duduk perkaranya.

Kami berbincang dengan tema obrolan melompat ke sana ke mari. Alhamdulillah, semuanya nyambung. Pada pertemuan-pertemuan selanjutnya kami merasakan suasana gayung saling bersambut. Tiga bulan kemudian, dia resmi menjadi pendamping hidup saya.

Bulan depan genaplah pernikahan kami memasuki usia enam belas tahun. Banyak ketidakcocokan yang kami hadapi. Tapi, justru di situlah letak dinamikanya hidup berumah tangga. Ya, pada dasarnya pernikahan adalah saling mencocokkan banyak hal yang berbeda.

Setiap pertentangan kami selesaikan dengan saling berbisik di dalam kamar agar anak-anak tidak mengetahui tentang apa yang terjadi di antara kami. Begitulah waktu bergulir hingga tak terasa anak-anak kami telah memasuki jenjang masa remaja.

Ya, setelah saya renungkan, jodoh itu ibarat resleting sepatu yang macet. Kita kadang hampir berputus asa untuk bisa mengatasinya. Bila sudah ketemu jalannya, hanya dalam hitungan detik kemacetan itu sudah bisa ditembus bahkan diurai. Begitu mudahnya.

So, jangan pernah berhenti berjuang dan berkorban demi menggapi jodohmu, Kawan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*