Perempuan dan Secangkir Kopi

Perempuan dan Secangkir Kopi“Kopi itu manja, sedikit saja kita salah memperlakukannya, maka rasa dan aromanya akan berbeda.

Itulah pernyataan Priyantono Rudito, Direktur SDM PT Telkom yang juga seorang pemegang sertifikasi barista (peracik kopi) internasional. Saya memeroleh pengetahuan sangat berharga itu saat menikmati tulisan Kang Yuswohadi di blognya yang selalu saya sambangi manakala ia mem-posting artikel terbarunya.

Ternyata, untuk menghasilkan secangkir kopi super nikmat, terdapat beberapa tahapan rumit yang harus dilewati. Proses penyimpanan biji kopi, misalnya, tidak bisa dilaksanakan dalam sembarang suhu. Menggiling biji kopi juga tak bisa asal-asalan. Menguapkan susu atau frothing mesti dilakoni dalam rentang waktu yang presisi.

Semua itu ada tekniknya serta perlu pengorbanan tenaga dan waktu. Tapi ingatlah, proses rumit itulah yang menjadikan secangkir kopi di cafe-cafe bisa bernilai Rp.40.000 bahkan Rp.400.000.

Perempuan juga, saya kira, tak ada bedanya dengan kopi. Perlu diperlakukan dengan sangat hati-hati. Tak boleh ditempatkan di sembarang tempat. Tak layak dibiarkan tanpa sentuhan kasih sayang.

Ketika kita memperlakukan dia seenak perut kita, maka kualitas dirinya tidak akan tampil sebagaimana yang kita harapkan. Jadi, nilai atau kualitas perempuan yang menjadi pasangan kita itu sesungguhnya sangat bergantung dari perlakuan kita kepadanya.

Menurut Priyanto Rudito, setidaknya terdapat 7 langkah yang harus dijalani dengan sangat teliti dan disiplin untuk menghasilkan secangkir kopi terbaik. Proses itu dimulai dari pememetikan biji kopi, pengeringan dan penyimpanan, pemanggangan (roasting), penggilingan (grinding), proses ekstrasi (extracting) hingga proses menuangkan ke cangkir (latte art).

Agar mendapatkan cinta berkualitas super dari seorang perempuan, kita pun wajib melewati serangkaian proses dengan penuh disiplin. Terdapat beberapa langkah yang mesti kita jalani dengan telaten dan penuh kesabaran. Tidak boleh grasak-grusuk.

Tepatlah kiranya jika proses memetik kopi itu diidentikkan dengan proses meminang pasangan kita. Sedangkan proses-proses berikutnya sama dengan proses komunikasi yang kita jalin dengan pasangan kita setelah mahligai rumah tangga telah terbentuk.

Jika seluruh proses tersebut telah kita jalani dengan disiplin, telaten, dan sabar, maka insya Allah, cinta yang dituangkan pasangan kita ke dalam cangkir hati kita adalah cinta yang benar-benar prima. Jauh melebihi nikmatnya secangkir espresso ataupun cappuccino.

Jika ternyata cinta yang kita terima dari dirinya jauh untuk dikatakan baik, maka telusuri saja proses yang tadi telah saya sebutkan. Mungkin dikarenakan proses meminangnya yang kurang sempurna, merayunya yang asal-asalan, menafkahinya yang sekehehendak hati, menggaulinya yang tidak taat aturan, prosedur menyayanginya yang salah hingga proses penuangan cinta yang tak beretika.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*