Memilih Jodoh ala Lebai Malang

Memilih Jodoh ala Lebai MalangPernah mendengar cerita Lebai Malang? Wah, sayang sekali kalau belum pernah mendengar dongeng dari Ranah Minang itu. Baiklah, kalau belum pernah mendengarnya, akan saya ceritakan ringkasannya.

Alkisah, Lebai Malang menerima undangan kenduri untuk waktu yang sama dari dua tempat berbeda. Penyelenggara kenduri pertama bertempat tinggal di hulu sungai, sedangkan yang kedua berada di hilir sungai.

Begitu perhitungannya Lebai Malang. Kedua undangan tersebut ditakar benar letak untung ruginya. Penyelenggara kenduri di hulu sungai kabarnya memotong sapi dua ekor. Sayangnya, masakan orang-orang hulu itu dikenal tidak sedap. Lagi pula penyelenggara kenduri itu kabarnya sangat tidak ramah.

Lebai Malang pun kemudian memutuskan untuk memenuhi undangan orang hilir. Sekalipun hanya memotong seekor sapi tapi masakan mereka dikenal sedap. Penyelenggara kenduri juga dikenal baik dalam memperlakukan para tamunya.

“Hmmm yummy, pasti di hilirĀ  aku akan menikmati gulai kepala sapi yang enak,” bisik hatinya.

Maka berangkatlah Lebai Malang menuju hilir. Tenaganya tidak terlalu terkuras sebab ia mendayung perahunya mengikuti arus sungai. Namun, di tengah perjalanannya menuju hilir, Lebai Malang berpapasan dengan para tetangganya yang menuju ke hulu.

“Jangan ke hilir. Sapi yang dipotong di sana sangat kurus!” teriak seorang tetangganya.

“Mending ke hulu saja. Sapi yang dipotong di sana gemuk-gemuk. Lagi pula orang yang kenduri di hulu juga akan membagi-bagikan kue yang banyak dan enak,” teriak tetangga yang satunya lagi.

Maka berputar haluanlah Lebai Malang. Dengan sekuat tenaga ia mempercepat kayuhan perahunya. Tentu saja ia harus mengeluarkan tenaga ekstra. Kali ini dia harus menentang arus sungai.

Ketika sampai di hulu, ternyata kenduri itu telah usai alias sudah bubaran. Melihat situasi tersebut, sang Lebai Malang pun segera berbalik arah. Ia mendayung perahunya dengan kecepatan super menuju hilir agar masih bisa mengikuti kenduri di lokasi tersebut.

Ah, namanya juga Lebai Malang, malang nian nasibnya. Ternyata, begitu sampai di hilir sungai, kenduri di tempat ini pun telah dinyatakan berakhir. Semua peserta kenduri telah kembali menuju rumahnya masing-masing dengan membawa perut buncit karena kenyang makan hidangan di tempat itu. Sementara itu tangan mereka memegang bungkusan nasi plus lauk-pauknya, oleh-oleh dari sang pemilik hajat. Bersedihlah sang Lebai Malang.

Kawan, tidak terasa sebenarnya kita sering berprilaku layaknya sang Lebai Malang. Kita begitu goyah dalam menentukan pendirian saat dihadapkan pada dua pilihan bakal jodoh kita.

Ketika telah menentukan satu pilihan, kita sering tergoda untuk mengubah pilihan itu. Kita mulai menghitung-hitung kekurangan calon jodoh kita. Dan ketika kita mencoba untuk berpindah ke lain hati, ternyata calon jodoh yang dituju telah digaet oleh orang lain.

Kita panik. Lalu, mencoba untuk berbalik arah ke seseorang yang telah kita tinggalkan. Dan ternyata, dia pun telah digaet orang.

Jika kita telah mengalami peristiwa tragis tersebut, maka mulai hari ini, belajarlah untuk berketetapan hati dalam menentukan bakal jodoh kita. Jangan sekali-kali goyah oleh bujuk rayu siapa pun. Ketetapan hati kita akan menentukan cepat tidaknya kita beroleh jodoh.

Gak percaya? Silakan buktikan sendiri!

3 Comments

  1. Irne Nurjanah says:

    Saya mencari pendamping seorang pria asing dengan mata warna biru

  2. apa maksudnya lebai malang???

  3. Saya mencari istri solehah orang bandung

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*