Kita adalah Belalang yang Terkurung Kotak Korek Api

Kita adalah Belalang yang Terkurung Kotak Korek ApiDari Pondok Gontor saya mendapat kisah tentang seekor belalang. Alkisah, ada seekor belalang yang hidup dalam kungkungan sebuah kotak. Pada suatu hari sang belalang mencoba keluar dari kotaknya.

Betapa kagetnya dia, ternyata dirinya memilki kemampuan untuk melompat. Saking senangnya, selama seharian kegiatannya hanya melompat dan terus melompat.

Tak lama kemudian ia dikejutkan oleh kemampuan belalang lain. Ya, belalang lain yang ada di sekitarnya mampu melompat lebih tinggi dari dirinya. Ia terheran-heran dengan kemampuan teman-temannya itu. Maka bertanyalah sang belalang yang pernah terkungkung dalam kotak itu, “Kok sampeyan bisa melompat lebih tinggi dari aku ya, padahal umur dan ukuran tubuh kita sama.”

“Lha bagaimana ini, ya semua belalang pasti memiliki kemampuan melompat tinggi seperti saya. Justru akan terdengar aneh jika ada belalang yang tak mampu melompat tinggi,” jawab si belalang yang tak pernah hidup dalam kotak itu.

Kawan, kisah si belalang di atas tampaknya hampir sama dengan nasib kita. Kita ibarat belalang yang hidup dalam kungkungan kotak korek api. Kita tidak tahu bahwa sebenarnya memiliki kemampuan yang jauh melebihi kemampuan saat ini. Kita selalu merasa bahwa memiliki keterampilan sebatas yang saat ini kita ketahui.

Penyebab sempitnya kemampuan kita adalah kotak yang mengungkung kita. Kotak itu bisa berupa lingkungan kerja, lingkungan keluarga, lingkungan pergaulan, dan lingkungan-lingkungan lainnya.

Di lingkungan tersebut kita tidak mendapatkan sebuah motivasi yang menyadarkan tentang kelebihan yang kita miliki. Justru sebaliknya, kita dikerdilkan.

Pengerdilan itu bisa berupa stigma, sindiran, cibiran, serta bentuk-bentuk lainnya. Celakanya, kita menerima begitu saja atas penilaian buruk tersebut, bahkan, menjadikannya sebagai acuan tunggal dalam menilai kemampuan diri kita sendiri. Kita lupa terhadap kemampuan dan kelebihan sejati kita.

Selanjutnya, kita pun merasa rendah diri. Utamanya, ketika kita berdekatan dengan lawan jenis kita. Jangankan menyatakan cinta, naksir saja tidak berani. Kita selalu merasa bahwa kita tidak sepadan dengan seseorang yang kita taksir tersebut. Pikir kita, jangankan dibandingkan, disandingkan pun kita gak bakalan sesuai dengannya.

Nah, jika kita sedang berada dalam lingkungan yang mengerdilkan diri kita, saran saya segera hijrah dari tempat tersebut. Biarkan seluruh otot, perasaan, dan otak kita menunjukkan dan mengembangkan kemampuannya sesuai fitrahnya. Jangan sampai nasib kita sama halnya dengan seekor belalang yang terperangkap dalam sebuah kotak korek api.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*