Ingatlah, Tunangan Itu Bukan Suami Kita

Ingatlah, Tunangan Itu Belum Sah Menjadi SuamiSaya tidak habis pikir kalau ada cewek yang baru saja dilamar atau baru saja dipertunangkan sudah bersedia diajak tidur oleh calon pasangannya itu. Sekan-akan pernyataan komitmen awal itu sebagai tanda sahnya sebuah hubungan. Seolah-olah itu sebagai pertanda bahwa hubungan suami istri sudah boleh dilaksanakan.

Dan lebih tidak masuk akal lagi jika ada orang tua yang membiarkan begitu saja anak perempuannya runtang-runtung dengan calon suaminya itu. Seolah-olah pacar atau tunangan anaknya itu telah menjadi suami sah dari anak perempuannya tersebut.

Sadarilah bahwa segala sesuatu itu bisa berubah dalam hitungan tahun, bulan, minggu, hari, jam, menit, bahkan dalam hitungan detik. Seandainya karena suatu hal, komitmen yang telah dibangun itu tiba-tiba putus di tengah jalan, apa yang bakal terjadi terhadap kita? Padahal kehormatan telah diserahkan sepenuhnya kepada calon pasangan kita.

Lantas apa jadinya kita? Dikatakan gadis pada kenyataannya sudah tidak perawan lagi. Dikatakan janda kenyataannya belum pernah menikah. Dikatakan telah berumah tangga kenyataannya belum ada ijab kabul.

Dan ketika orang yang kita gadang-gadangkan itu melarikan diri dari tanggung jawabnya, apa yang bisa kita perbuat?

Maka pantaslah jika agama yang kita anut telah menetapkan batasan hubungan pergaulan di antara sepasang anak manusia yang berbeda jenis. Beberapa ayat dengan tegas menyatakan tentang upaya preventif agar kita tidak terjebak dalam aib tak berkesudahan.

Semua itu ditetapkan demi kebaikan kita sebagai penganutnya. Tapi herannya, mengapa ketetapan Tuhan itu selalu dan selalu kita persoalkan. Alih-alih menyesuaikan dengan aturan Tuhan itu, kita malah memperdebatkannya, bahkan menentangnya.

Zaman boleh berkembang; kehidupan boleh beranjak menuju arah modernisasi. Tapi, untuk urusan moral saya kira kita harus tetap berpegang teguh pada norma agama yang kita anut. Semakin banyak di antara kita yang memenuhi firman-Nya, maka akan semakin baiklah kehidupan dan masa depan kita. Semoga penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di sekeliling kita tidak berlanjut hingga Tuhan menurunkan azabnya kepada kita semua.

Maka sebelum semua itu terjadi, mari kita beristighfar; memohon ampunan-Nya. Mari kita berdoa agar azab itu tidak diturunkan-Nya. Dan yang lebih penting lagi, mari kita koreksi diri kita. Masihkah kita mengagung-agungkan pola pergaulan bebas yang diadopsi dari negeri sana? Semoga tidak demikian. Amien!

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*