Jika Jodoh Idaman Tidak Direstui Keluarga

restu ortu

thengexz.blogspot.com

Bicara tentang pernikahan berarti bicara bagaimana upaya untuk menyatukan dua buah keluarga besar. Pernikahan sejatinya tidak sekedar menikahkan dua insan beralinan jenis. Namun bagaimana membangun silahturahmi antar dua keluarga yang sebelumnya tidak pernah saling mengenal. Sehingga kedua keluarga tersebut bisa saling mengenal satu dengan yang lainnya dan kemudian terjalinlah kedekatan secara emosional antar kedua belah pihak.

Bagi kamu yang sudah mendapatkan jodoh idaman dan hendak melangsungkan pernikahan, hal tersebut penting sekali diperhatikan. Mengapa? Sebab pernikahan bukanlah sekedar formalitas perubahan status atau legalisasi hubungan. Namun sebuah ikatan suci yang menyatukan dua insan berlainan jenis dalam sebuah maghligai rumah tangga. Tempat keduanya menyemai generasi unggul, pewaris masa depan. Oleh karena itu pernikahan hendaknya terus dirawat dan dijaga agar tetap langgeng.

Namun sayangnya, kesakralan pernikahan sering kali terpaksa buyar karena

tidak adanya restu dari keluarga besar. Meskipun sebenarnya antara kamu dan pasangan sudah klik, tapi jika keluarga belum sepenuhnya mendukung, ternyata hal ini berpotensi menimbulkan masalah besar. Jika ini yang terjadi, apa yang harus kamu lakukan? Haruskah pernikahan tetap dilangsungkan meskipun kamu dan pasangan tidak mengantongi izin dari keluarga?

Agar pernikahanmu bisa awet dan langgeng, dan keluarga akhirnya memberikan restu, berikut ini hal-hal penting yang perlu kamu siapkan:

Pertama, visi misi. Menikah berarti mengarungi samudera dalam satu kapal yang sama. Berarti, kamu dan pasangan harus memiliki visi misi yang sama. Dengan visi misi yang sama, kapal akan cepat sampai ke tujuan dengan selamat. Sebalinya, tanpa visi misi yang jelas ataupun memiliki visi misi tapi berbeda, laju kapal akan tersendat karena harus melawan badai. Tempat tujuan pun juga samar karena tidak jelas jalur yang harus ditempuh untuk sampai ke sana. Jadi, samakan dulu visi misimu dengan pasangan.

Kedua, komitmen. Pastikan antara dirimu dan pasangan memiliki komitmen yang kuat. Bahwa kalian akan siap mengarungi kehidupan rumah tangga, baik dalam suka maupun duka. Menerima segala kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Ketiga, komunikasi. Komunikasi adalah sarana untuk mengemukakan ide ataupun permasalahan. Jalinlah komunikasi yang baik antara kamu, pasangan, dan keluarga. Paparkan visi misimu kepada keluarga kedua belah pihak. Ajak mereka berdialog dan galilah pendapat mereka. Apakah mereka keberatan dengan keputusanmua? Atau ada hal-hal yang kurang berkenan di hati mereka? Nah, komunikasikan hal ini dengan cara yang bijaksana. Jika menurut mereka masih banyak hal-hal negatif yang ada pada dirimu ataupun pasangan, mintalah masukan dari mereka. Yakinkan bahwa kalian siap melakukan perubahan ke arah yang lebih positif.

Keempat, kemandirian. Sering kali keluarga tidak memberi restu karena mereka melihat kamu atau pasangan belum mandiri. Sehingga mereka kurang yakin bahwa kalian bisa menunaikan segala kewajiban kelak setelah menikah. Nah, saatnya kamu mengevaluasi diri. Jika kamu masih anak mama, segera rubah dan buktikan. Bahwa kamu mampu menjadi pribadi yang mandiri.

4 Comments

  1. manteb manteb manteb

  2. kok gak nyambung ya?

  3. Rizqia Wulan Sari says:

    kalau gak direstuinya karna ras gimana?
    saya jawa dan si cowo sunda.. orang tua saya gak setuju dan ibunya si cowo pun gak ngizinin.. haruskah kita berpisah?

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*