Tips Menghadapi Calon Mertua

Calon MertuaAlhamdulillah, status jomblo telah dilepaskan. Kini kamu sudah punya calon pendamping. Selamat, ya?! Nah, sebelum cintamu berlanjut ke tingkat yang lebih serius lagi, tolong simak dengan baik saran dari Johanna Nauraine seorang penasihat pernikahan asal Cicadas, maaf, Chicago berikut ini.

Saat meniti tangga menuju ke pelaminan, hal yang harus diingat adalah kamu tidak sekedar menikahi tunanganmu, melainkan juga juga menikahi keluarganya. Sadarilah dari sekarang, bahwa akan hadir berbagai tantangan buatmu. Berikut adalah beberapa kendala yang paling umum dalam hubungan calon mertua dengan calon menantu pada tahap pertunangan.

Posesif
Masalah posesif ini cenderung sering terjadi antara calon suamimu dan ibundanya. Anak lelaki tertua dalam keluarga biasanya memiliki hubungan dekat secara emosional dengan ibunya. Kamu mungkin akan merasa terjebak di tengah cinta si dia dengan ibunya. Hubungan segitiga ini sangat berpotensi mengundang konflik.

Dalam beberapa kasus, ibu mertua kadang mengkhawatirkan masa depan anak lelakinya. Mungkin sang calon mertua menemukan keganjilan atau ketidakcocokan pada karakter calon mantu perempuannya. Karena itu sudah menjadi pilihan anaknya, maka mau tidak mau ia harus menerima kenyataan itu. Kesulitan ini akan menimpa seorang ibu yang harus melepaskan putera tunggalnyanya yang sudah begitu lama bergantung padanya. Ketergantungan ini terutama hadir dalam kehidupan seorang pria yang telat menikah.

Dalam hal ini, kamu mungkin merasa seperti bersaing dengan calon mertuamu sendiri. Bersaing untuk merebut perhatian tunanganmu. Kamu seakan-akan sebagai the second woman bagi tunanganmu. Dalam situasi terburuk, tunanganmu dihadapkan pada pilihan rumit di antara kamu dan ibunya. Calon mertuamu mungkin juga akan menguji kepatuhan anak lelakinya melalui perseteruan kecil atas rencana pernikahan kalian berdua.

Di lain pihak, calon suamimu mungkin dibebani rasa bersalah harus meninggalkan ibundanya sendiri. Situasi ini bisa membuat masa pertunangan menghadapi sedikit kesulitan. Namun, itu penting bagi seorang pria untuk membangun kemerdekaan dari ibunya. Jika tidak, pernikahannya akan berada dalam kondisi marabahaya bak telur di ujung tanduk.

Perencanaan Pernikahan
Salah satu sumber konflik yang sering muncul di antara sepasang tunangan dengan calon mertuanya adalah tentang rencana pernikahan. Pernikahan akan penuh dengan makna bagi kedua belah pihak. Pernikahan juga melambangkan pemisahan emosional dari masing-masing keluarga kedua belah pihak.

Sudah lazim bagi ibu dari mempelai wanita dan ibu dari pengantin pria saling bersaing suara dalam perencanaan pernikahan. Jika salah satu pihak merasa telah mengelurkan banyak dana melebihi pihak lainnya untuk resepsi pernikahan itu, mereka mungkin merasa berhak untuk mengatur atas segala sesuatunya. Dalam hal ini, sang calon pengantin harus lebih berhati-hati. Jangan sampai kedua perempuan ini dibiarkan terlalu mendominasi pengambilan keputusan dengan alasan telah banyak mengeluarkan bantuan keuangan.

Daftar tamu juga termasuk sumber potensial menghadirkan konflik. Dalam beberapa kasus, keluarga kedua belah pihak mungkin begitu vokal dan ngotot menentukan secara sepihak atas daftar orang yang diundang. Sang calon mempelai mulai merasa kehilangan kendali atas pernikahan mereka sendiri! Jangan biarkan ini terjadi!

Untuk urusan pernik-pernik pernikahan yang dipandang tidak terlalu penting bagi kalian berdua, maka mungkin lebih mudah untuk membiarkan orang tua kalian merencanakannya. Meskipun demikian, ada baiknya kalian berdua untuk urun rembuk di beberapa titik tertentu untuk menghindari konflik di antara keduanya.

Situasi yang paling sulit terjadi ketika perencanaan pernikahan dipandang penting oleh salah satu anggota pasangan (biasanya pengantin wanita) sementara calon ibu mertua ngotot pada pilihannya. Dalam situasi ini, pada saat yang tepat, sangat penting bagi calon pengantin pria meredam keinginan ibunya dan mendukung pilihan tunangannya.

Para Orangtua
Berikutnya akan saya sampaikan saran terbaik untuk calon mempelai berdua. Jika ingin membina hubungan baik dengan calon mertua kalian, milikilah harapan yang realistis satu sama lain. Jangan bermimpi beroleh mertua memiliki sifat yang kamu impikan selama ini.

Kesopanan dan pertimbangan diperlukan ketika datang menemui calon mertua. Setiap calon mempelai, dalam beberapa hal tertentu, perlu mempertimbangkan kebutuhan, perasaan dan permintaan dari masing-masing calon mertua. Dengan demikian, kamu telah bertoleransi dengan cara terhormat dan peduli terhadap pasangan kamu.

Kepatuhan dan sikap protektif seorang anak terhadap orang tuanya harus dihormati oleh kedua calon mempelai. Bangunlah hubungan pribadi yang harmonis dengan calon mertua masing-masing. Hal ini dapat dicapai melalui wisata bersama, makan siang di warung lesehan, dan dengan melibatkannya dalam beberapa aspek perencanaan pernikahan. Inisiatif ini sangat bermanfaat dalam membangun hubungan baik pada hari ini maupun di masa depan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*