Camer Matre, Masa Sih?!

Camer Matre, Masa Sih!Pantaskah jika seorang suami memiliki penghasilan kalah jauh sama istrinya? Pertanyaan tersebut mungkin pernah bertengger dalam pikiran calon mertua teman saya. Ya, ketika itu (tahun 90-an) teman saya hanya mengantongi gaji Rp 90.000,00 per bulannya. Sementara itu calon istrinya, yang saat itu masih bekerja di sebuah bank nasional, setiap bulan berpenghasilan enam kali lipat dari gaji teman saya.  

Memang ibarat bumi dengan langit penghasilan kedua insan yang sedang dimabuk asmara tersebut. Namun demikian, pada akhirnya sang calon mertua dapat menerima dengan lapang dada keberadaan sang calon mantunya.

Ada pertimbangan khusus yang menjadi penyebab kerelaannya. Teman saya ini sekalipun pegawai negeri dengan gaji paspasan tapi dia seorang dokter gigi. Sehingga, calon mertuanya meyakini masa depan teman saya ini lumayan cerah. Tapi sebenarnya yang menyebabkan hati sang calon mertua leleh adalah prilaku kesehariannya. Salat lima waktu tak pernah ditinggalkannya. Demikian pula dengan amal-amalan sunahnya.

Apa yang dialami oleh teman saya merupakan sebuah bukti bahwa calon mertua itu tidak selamanya matre.  Ya, selama ini saya menerima banyak keluhan dari beberapa cowok yang hendak mengajukan lamaran. Mereka merasa belum siap secara finansial. Merasa kere. Harapannya saat menikah telah siap dengan rumah. Syukur-syukur siap pula dengan kendaraannya.

Ah, mimpi kale! Hanya para pria berstatus putra mahkota sang ayahanda yang kaya raya saja yang bakalan siap seperti itu. Jika nasib Anda sama dengan saya: sesama anak pegawai negeri sipil kelas rendahan dan bernenek moyang buruh tani, tentu tidak akan sanggup dalam tempo sekejap bisa menyiapkan harta sebanyak itu.

Jangan deh berpikir bahwa semua calon mertua itu matre. Haqul yaqin, hanya segelintir saja yang materialistis. Wajar saja jika ada yang berpikiran seperti itu sebab mereka menghendaki rumah tangga yang bakal ditempuh oleh anaknya  itu penuh kebahagiaan. Dan, setuju ataupun tidak, kita mesti mengakui bahwa salah satu sumber kebahagiaan dan kesejahteraan itu terletak pada harta.

Tapi, jangan terlalu dipikirkan sebab hal pertama yang dilihat oleh sebagian besar calon mertua adalah keberadaan itikad baik kita; bukan kekayaan kita. Sanggupkah kita menjadi imam yang baik bagi anaknya? Soal rezeki itu masih bisa dicari.

Percayalah, mertua itu baiknya gak ketulungan. Bahkan, pascamenikah ketika kita berpamitan untuk mengontrak di luar agar bisa berdikari, dengan tetesan air mata dia akan membekali kita sesuai dengan kemampuannya. Kita bisa dibekali dengan setengah lusin piring, sutil, tiga biji gelas. Bahkan, seperangkat kursi yang menghuni ruang tamunya, jika tidak kita tolak, akan dibekalkan pula kepada kita.

Jadi, sekali lagi saya tekankan bahwa tidak semua calon mertua itu matre!

One Comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*