Harmonislah, Wahai Mantan Mertua dan Bekas Menantu

Mertua-MenantuTak ada habisnya cerita tentang calon mertua. Ya, calon mertua kelak akan menjadi mertua kita. Harap diingat, bahwa mertua adalah orang tua kita jua. Artinya, sikap dan perlakuan kita terhadap keduanya harus berimbang.

Marilah kita hindari lontaran kata ibumu atau bapakmu kepada istri/suami kita. Mari kita perlakukan mertua kita secara layak sebagaimana harusnya dengan harapan suami/istri kita pun bisa memperlakukan kedua orang tua kita seperti halnya kita.

Jangan hanya mau menerima anaknya sementara abai dengan orang tuanya. Sebagai sebuah konsekuensi, jika dengan lapang dada mau menerima segala kekurangan dan kelebihan suami/istri kita maka kita pun harus ikhlas menerima kekurangan dan kelebihan dari mertua kita.

Jangan pandang mertua sebagai orang lain dalam kehidupan kita. Mulailah kita berpikir bahwa pada suatu saat kita pun akan tiba pada kondisi sebagaimana mereka. Kita berharap anak-anak kita bila sudah berkeluarga bisa memperlakukan kita dengan baik. Demikian pula dengan para menantu kita.

Ketika saya duduk menunggu panggilan dokter di sebuah rumah sakit, saya dengar bagaimana seorang ibu curhat tentang nasib dirinya yang sudah tidak diorangkan oleh mantan menantunya. Putri si Ibu meninggal beberapa waktu lalu dengan meninggalkan seorang anak. Entah apa yang menjadi penyebab silang sengketa di antara sang mantan mertua dan mantan menantu tersebut, yang pasti, sejak saat itu seolah-olah sang menantu sudah melupakan sama sekali akan mantan mertuanya itu. Dia lupa bahwa di antara mereka ada seorang anak yang menjadi cucu sang mantan mertua.

Kakek atau nenek mana yang tidak rindu terhadap cucunya. Oleh karena itu, jangan halangi mereka untuk bisa menumpahkan kasih sayangnya terhadap cucu mereka. Hubungan mertua-menantu memang bisa berakhir hingga bisa lahir istilah bekas menantu atau bekas mertua. Tetapi, jalinan antara seorang kakek/nenek dengan cucunya tidak pernah mengenal kata bekas. Oleh karena itu, alangkah eloknya jika mereka diberi kesempatan untuk bisa berinteraksi dengan cucunya.

Dari latar cerita di atas bisa ditarik kesimpulan bahwa sikap menghormati kedua mertua kita tidak berbatas saat mereka resmi menjadi mertua kita. Bila takdir menggariskan lain hingga kita harus berpisah dengan pasangan kita, karena dia terlebih dahulu dijemput Yang Mahakuasa atau karena perceraian, hubungan dengan mantan mertua, sekalipun tidak seintens dahulu, harus tetap terjalin baik.

Sekali lagi harap diingat bahwa di antara kita dengan mereka masih ada penghubung yang tidak bisa dikesampingkan begitu saja, yakni, anak kita yang juga menjadi cucu mantan mertua kita.

2 Comments

  1. Lazim nya orang berumah tangga, itu hanya ada 1 suami, 1 mertua dan 1 besan..

    Jika dalam rumah tangga ada 2 mertua, rumah tangga itu boleh di bilang tidak wajar.
    Mantan itu bekas, bila datang kerumah tetap hitungan nya tamu.. Bukan lagi besan ataupun mertua.

  2. Vitri Dinayanti says:

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh.. saya janda 1 orang anak, suami saya meninggal saat saya hamil 5 bulan. Alhamdulillah tahun ini anak saya (InsyaAllah) usia 9 th. Saya berencana menikah tahun ini. Bagaimana seharusnya sikap saya ke mertua saya dr Alm suami. Calon suami saya, meminta saya untuk lebih fokus ke keluarga baru saya. Kadang saya bimbang dlm bersikap.
    Kl baca di atas.. ” lazimnya orang berumah tangga hanya ada 1 suami, 1 mertua dan 1 besan..dst..”

    Mohon diberikan penjelasan..

    Terima kasih
    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*